artikel, skripsi dan tesis islam

artikel, skripsi dan tesis islam pilihan untuk pencerahan pemikiran keislaman

Rabu, 21 Januari 2009

Wahhabi Menggugat Syi’ah (11)

Wahhabi Menggugat Syi’ah (11)
Ditulis pada Nopember 5, 2008 oleh Ibnu Jakfari

Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah (5)

Senjata Terakhir& Upaya Keputus Asaan

Menyaksikan kuat dan tegasnya hadis-hadis tentang sebab turunnya ayat al Balâgh dalam peristiwa Ghadir Khum terkait dengan pengangkatan Imam Ali as., serta ketidak-mampuan mereka membantah dan membatalkannya, maka dihadapan mereka tersisa dua usaha, walaupun terbukti apa yang mereka usahakan itu sia-sia, sebab menegakkannya sebagai bukti bak menegakkkan benang basah dan alasan yang mereka andalkan lebih rapuh dari rumah laba-laba!

Di sini ada dua usaha yang mereka lakukan:

Pertama, mengaitkan ayat di atas dengan siyâq/konteks ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

Kedua, menyajikan riwayat-riwayat tandingan tentang turunnya ayat tersebut dalam peristiwa lain.

Syubhat Siyâq

Dalam kesempatan ini saya hanya akan menelaah kedua masalah ini secara ringkas, agar tidak makin melebar pembicaraan dan diskusi kita, dan semoga dalam kesempatan lain Allah SWT memberi taufiq saya untuk menuntaskan kajian tentangnya. Amîn.

Akan tetapi, sebelum mendiskusikan kedua syubhat di atas, perlu diketahui bahwa:

1) Ayat tersebut di atas adalah bagian dari surah al Mâidah yangt telah disepakati ia sebagai surah Madaniyyah (turun setelah Hijrah Nabi saw.), dan dia termasuk surah-surah yang terakhir turun. Lebih lanjut baca tafsir al Qurthubi, tafsir al Khâzin, dan al Itqân fî ‘Ulûmil Qur’ân,1/26-52, serta kitab-kitan tafsir dan Ulumul Qur’an lainnya.

2) Peletakan sebuah ayat dalam tempatnya dalam sebuah surah itu tidak mesti sesuai urutan turunnya. Bisa jadi sebuah ayat turun pada suatu waktu tertentu, akan tetapi Nabi saw. memerintahkan agar ia diletakkan dalam rangkaian ayat-ayat yang telah turun beberapa waktu sebelumnya. Sebab peletakan ayat-ayat pada posisinya dalam surah-surah adalah bersifat tawqîfi. Untuk itu banyak contoh telah dikemukan para pakar dan ahli Al Qur’an.

Karenanya, semata bersandar kepada siyâq itu belum cukup sebagai bukti bahwa ayat tertentu itu berbicara dalam konteks yang sesuai dengan siyâq-nya dan dalam penafrisanannya harus dikaitkan dengannya, selama belum ada bukti pasti bahwa ia turun bersamaan dengan rangkaian ayat-ayat tersebut!

Peletakan ayat al Balâgh di antara rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang Ahlul Kitab telah menyebabkan sebagain mufassir terjebak dalam syubhat di atas.

Fakhruddin ar Râzi berkata:

اعلم أنّ هذه الروايات وإن كثرت، إلاّ أنّ الاََوْلى حمله على أنّه تعالى آمنه من مكر اليهود والنصارى، وأمره بإظهار التبليغ من غير مبالاة منه بهم، وذلك لاَنّ ما قبل هذه الآية بكثير وما بعدها بكثير، لمّا كان كلاماً مع اليهود والنصارى، امتنع إلقاء هذه الآية الواحـدة في البين على وجه تكون أجنبيّة عمّا قبلها وما بعدها»(2).

“Ketahuilah bahwa kendati riwayat-riwayat itu banyak, hanya saja memaknai ayat itu dengan: “Bahwa Allah –Ta’ala- menjamin keamanan bagi Nabi dari makar jahat kaum Yahudi dan Nashrani, dan perintah agar menampakkan tablîgh tanpa menghiraukan mereka, hal itu dikarenakan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya berbicara tentang Yahudi dan Nashrani, maka tidaklah mungkin melontarkan ayat tunggal tersebut di celah-celahnya sehingga ia menjadi asing dari ayat-ayat sesebelum dan sesudahnya.”[1]

Di sini, sepertinya ar Râzi lalai bahwa ayat al Balâgh itu terdapat dalam surah al Mâidah. Dan surah al Mâidah itu turun di masa-masa akhir kehidupan Nabi Muhammad saw., di mana Nabi saw. tidak lagi takut kepada ancaman musuh-musuh Islam, baik Yahudi, Nashrani maupun kaum Musyirk. Siyâq itu akan menjadi bukti pendukung penafsiran sebuah ayat, jika tidak ada nash mu’tabar yang menentangnya! Di sini, seperti Anda baca sendiri, ar Râzi mengakui bahwa turunnya ayat tersebut terkait dengan keutamaan Imam Ali as. adalah telah ditegaskan dalam banyak riwayat, dan ia adalah pendapat para sahabat besar dan tokoh Tabi’in seperti Ibnu Abbas, Barâ’ ibn Âzib dan Imam Muhammad ibn Ali al Baqir as. Sementara itu ketika mengajukan pendapatnya itu, ia sama sekali tidak mendukungnya dengan satu bukti pun. Tidak pula pendapat-pendapat lain yang ia sebutkan selain pendapat yang menegaskan bahwa ayat itu turun tentang keutamaan Ali as.!!

Adapun riwayat-riwayat yang disebutkan para ulama yang menandingi hadis bahwa ayat tersebut turun sebagai keutamaan Imam Ali as. dapat Anda baca dalam tafsir ath Thabari dan ad Durr al Mantsûr; as Suyuthi. Dan dengan sedikit merenungkan dan membandingkan antara yang satu dengan lainnya akan Anda temukan sederatan pertentangan dan ketidak harmonisan! Di sampin yang memperparah semuanya ialah bahwa surah al Mâidah itu berdasarkan ijmâ’ para Ahli tafsir –seperti telah saya katakan- turun di akhir masa hidup Nabi saw., sehingga semua riwayat di atas tertolak.

(Bersambung)

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda