artikel, skripsi dan tesis islam

artikel, skripsi dan tesis islam pilihan untuk pencerahan pemikiran keislaman

Rabu, 21 Januari 2009

Siapa Bilang Ibnu Taimiyah Ahlusunah

href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CLAKUMNET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml">

Siapa Bilang Ibnu Taimiyah Ahlusunah? (Bag-I)

Ditulis pada oleh Salafy

Bisa dilihat, betapa Ibnu Taimiyah telah memiliki kesinisan tersendiri atas pribadi Ali sehingga membuat mata hatinya buta dan tidak lagi melihat hakikat kebenaran, walaupun hal itu bersumber dari syeikh yang menjadi panutannya, Ahmad bin Hambal. Padahal, imam Ahmad bin Hambal -sebagai pendiri mazhab Ahlul-Hadis yang diakui sebagai panutan Ibnu Taimiyah dari berbagai ajaran dan metode mazhabnya- juga beberapa imam ahli hadis lain –seperti Ismail al-Qodhi, an-Nasa’i, Abu Ali an-Naisaburi- telah mengatakan: “Tiada datang dengan menggunakan sanad yang terbaik berkaitan dengan pribadi satu sahabat pun, kecuali yang terbanyak berkaitan dengan pribadi Ali. Ali tetap bersama kebenaran, dan kebenaran bersamanya sebagaimana ia berada”.

—————————————

Siapa Bilang Ibnu Taimiyah Ahlusunah? (Bag-I)

Ali bin Abi Thalib adalah satu sosok sahabat terkemuka Rasulullah saw. Terlampau banyak keutamaan yang disematkan pada diri Ali, baik melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah, maupun melalui hadis yang secara langsung disampaikan oleh Rasul. Keutamaan Ali dapat dilihat dari banyak sudut pandang. Dilihat dari proses kelahiran[2] hingga kesyahidannya.[3] Dari kedekatannya dengan Rasulullah, hingga kecerdasannya dalam menyerap semua ilmu yang diajarkan oleh Rasul kepadanya. Dari situlah akhirnya ia mendapat banyak kepercayaan dari Rasul dalam melaksanakan beberapa tugas-tugas ritual maupun sosial keagamaan.

Dengan menilik berbagai keutamaan Ali[4], maka sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah satu khalifah pasca Rasulullah.[5] Walaupun terdapat perbedaan pendapat antara Ahlussunah dan Syiah tentang urutan kekhilafahan pasca Rasul, tetapi yang jelas mereka sepakat bahwa Ali termasuk salah satu jajaran khalifah Rasul. Tentu, kecintaan terhadap Ali bukan hanya dominasi Syiah. Kaum Ahlusunah pun meyakini keutamaan Ali sebagai Sahabat dan khalifah pasca Rasul.

Pada tulisan ringkas ini akan dibahas perihal pendapat Ibnu Taimiyah tentang keutamaan Ali, yang berlanjut pada pendapatnya tentang kekhalifahan beliau.

Kelemahan Ali di Mata Ibnu Timiyah:

Di sini akan disebutkan beberapa pendapat Ibnu Taimiyah dalam melihat kekurangan pada pribadi Ali:

Disebutkan dalam kitab Minhaj as-Sunnah karya Ibnu Taimiyah, bahwa Ibnu Taimiyah meremehkan kemampuan Ali bin Abi Thalib dalam permasalahan fikih (hukum agama). Ia mengatakan: “Ali memiliki banyak fatwa yang bertentangan dengan teks-teks agama (nash)”. Bahkan Ibnu Taimiyah dalam rangka menguatkan pendapatnya tersebut, ia tidak segan-segan untuk mengatasnamakan beberapa ulama Ahlusunnah yang disangkanya dapat sesuai dengan pernyataannya itu. Lantas dia mengatakan: “As-Syafi’i dan Muhammad bin Nasr al-Maruzi telah mengumpulkan dalam satu kitab besar berkaitan dengan hukum yang dipegang oleh kaum muslimin yang tidak diambil dari ungkapan Ali. Hal itu dikarenakan ungkapan sahabat-sahabat selainnya (Ali), lebih sesuai dengan al-Kitab (al-Quran) dan as-Sunnah”[6].

Berkenaan dengan ungkapan Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa banyak ungkapan Ali yang bertentangan dengan nash (teks agama), hal itu sangatlah mengherankan, betapa tidak? Apakah mungkin orang yang disebut-sebut sebagai ‘syeikh Islam’ seperti Ibnu Taimiyah tidak mengetahui banyaknya hadis dan ungkapan para salaf saleh yang disebutkan dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah sendiri perihal keutamaan Ali dari berbagai sisinya, termasuk sisi keilmuannya. Jika benar bahwa ia tidak tahu, maka layakkah gelar syeikh Islam tadi baginya? Padahal hadis-hadis tentang keutamaan Ali sebegitu banyak jumlahnya. Jika ia tahu, tetapi tetap bersikeras untuk menentangnya-padahal keutamaan Ali banyak tercantum dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah yang memiliki sanad hadis yang begitu kuat sehingga tidak lagi dapat diingkarinya- maka terserah Anda untuk menyikapinya! Lantas, apa kira-kira maksud dibalik pengingkaran tersebut? Karena kebodohan Ibnu Taimiyah? Ataukah karena kebencian Ibnu Taimiyah atas Ali? Ataukah karena kedua-duanya? Bukankah Ali termasuk salah satu Ahlul Bait Nabi,[7] dimana sudah menjadi kesepakatan antara Sunnah-Syiah bahwa pembenci Ahlul-Bait Nabi dapat dikategorikan Nashibi atau Nawashib? Lantas manakah bukti bahwa Ibnu Taimiyah adalah pribadi yang getol menghidupkan kembali ajaran salaf saleh, sedang ungkapannya banyak bertentangan dengan ungkapan salaf saleh?

Sebagai contoh dapat disebutkan beberapa hadis yang membahas tentang keilmuan Ali sesuai dengan pengakuan para salaf saleh yang diakui sebagai panutan oleh Ibnu Taimiyah:

Sabda Rasulullah saw: “Telah kunikahkan engkau –wahai Fathimah- dengan sebaik-baik umatku yang paling tinggi dari sisi keilmuan dan paling utama dari sisi kebijakan…”.[8]

1. Sabda Rasulullah saw: “Ali adalah gerbang ilmuku dan penjelas bagi umatku atas segala hal yang karenanya aku diutus setelahku”.[9]

2. Sabda Rasulullah saw: “Hikmah (pengetahuan) terbagi menjadi sepuluh bagian, maka dianugerahkan kepada Ali sembilan bagian, sedang segenap manusia satu bagian (saja)”.[10]

3. Berkata ummulmukminin Aisyah: “Ali adalah pribadi yang paling mengetahui dari semua orang tentang as-Sunnah”.[11]

4. Berkata Umar bin Khattab: “Ya Allah, jangan Engkau biarkan aku dalam kesulitan tanpa putera Abi Thalib (di sisiku)”.[12]

5. Berkata Ibnu Abbas: “Demi Allah, telah dianugerahkan kepada Ali sembilan dari sepuluh bagian ilmu. Dan demi Allah, ia (Ali) telah ikut andil dari satu bagian yang kalian miliki”.[13] Dalam nukilan kitab lain ia berkata: “Tidaklah ilmuku dan ilmu para sahabat Muhammad saw sebanding dengan ilmu Ali, sebagaimana setetes air dibanding tujuh samudera”.[14]

6. Berkata Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya al-Quran turun dalam tujuh huruf. Tiada satupun dari huruf-huruf tadi kecuali didalamnya terdapat zahir dan batin. Dan sesungguhnya Ali bin Abi Thalib memiliki ilmu tentang zahir dan batin tersebut”.[15]

7. Berkata ‘Adi bin Hatim: “Demi Allah, jika dilihat dari sisi pengetahuan terhadap al-Quran dan as-Sunnah, maka dia –yaitu Ali- adalah pribadi yang paling mengetahui tentang dua hal tadi. Jika dari sisi keislamannya, maka ia adalah saudara Rasul dan memiliki senioritas dalam keislaman. Jika dari sisi kezuhudan dan ibadah, maka ia adalah pribadi yang paling nampak zuhud dan paling baik ibadahnya”.[16]

8. Berkata al-Hasan: “Telah meninggalkan kalian, pribadi yang kemarin tiada satupun dari pribadi terdahulu dan akan datang yang bisa mengalahi keilmuannya”.[17]
Dan masih banyak lagi hadis-hadis pengakuan Nabi beserta para sahabatnya yang menyatakan akan keluasan ilmu Ali dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah.

Adapun tentang ungkapan Ibnu Taimiyah yang menukil pendapat orang lain perihal Ali tersebut merupakan kebohongan atas pribadi yang dinukil tadi. Karena maksud al-Maruzi yang menulis karya besar tadi, ialah dalam rangka mengumpulkan fatwa-fatwa Abu Hanifah –pendiri mazhab Hanafi- yang bertentangan dengan pendapat sahabat Ali dan Ibnu Mas’ud. Jadi topik utama pembahasan kitab tersebut adalah fatwa Abu Hanifah dan ungkapan sahabat, yang dalam hal ini berkaitan dengan Ali dan Ibnu Mas’ud. Tampak, betapa terburu-burunya Ibnu Taimiyah dalam membidik Ali dengan menukil pendapat orang lain, tanpa membaca lebih lanjut dan teliti tujuan penulisan buku tersebut. Ini merupakan salah satu contoh pengkhianatan Ibnu Taimiyah atas beberapa pemuka Ahlussunah.

Dalam kitab yang sama, Ibnu Taimiyah ternyata bukan hanya meragukan akan kemampuan Ali dari sisi keilmuan, bahkan ia juga mengingkari banyak hal yang berkaitan dengan keutamaan Ali.[18] Di sini akan disebutkan beberapa contoh ungkapan Ibnu Taimiyah perihal masalah tersebut:

1. Kebencian terhadap Ali: “Ungkapan yang menyatakan bahwa membenci Ali merupakan kekufuran, adalah sesuatu yang tidak diketahui (asalnya)”.[19]

2. Pengingkaran hadis Rasul: “Hadis ana madinatul ilmi (Aku adalah kota ilmu…) adalah tergolong hadis yang dibikin (maudhu’)”.[20]

3. Kemampuan Ali dalam memutuskan hukum: “Hadis “aqdhakum Ali” (paling baik dalam pemberian hukum diantara kalian adalah Ali) belum dapat ditetapkan (kebenarannya)”.[21]

4. Keilmuan Ali: “Pernyataan bahwa Ibnu Abbas adalah murid Ali, merupakan ungkapan batil”.[22] Sehingga dari pengingkaran itu ia kembali mengatakan: “Yang lebih terkenal adalah bahwa Ali telah belajar dari Abu Bakar”.[23]

5. Keadilan Ali: “Sebagian umatnya mengingkari keadilannya. Para kelompok Khawarij pun akhirnya mengkafirkannya. Sedang selain Khawarij, baik dari keluarganya maupun selain keluarganya mengatakan: ia tidak melakukan keadilan. Para pengikut Usman mengatakan: ia tergolong orang yang menzalimi Usman…secara global, tidak tampak keadilan pada diri Ali, padahal ia memiliki banyak tanggungjawab dalam penyebarannya, sebagaimana yang pernah terlihat pada (masa) Umar, dan tidak sedikitpun mendekati (apa yang telah dicapai oleh Umar)”.[24]

Dari pengingkaran-pengingkaran tersebut akhirnya Ibnu Taimiyah menyatakan: “Adapun Ali, banyak pihak dari pendahulu tidak mengikuti dan membaiatnya. Dan banyak dari sahabat dan tabi’in yang memeranginya”.[25]

Bisa dilihat, betapa Ibnu Taimiyah telah memiliki kesinisan tersendiri atas pribadi Ali sehingga membuat mata hatinya buta dan tidak lagi melihat hakikat kebenaran, walaupun hal itu bersumber dari syeikh yang menjadi panutannya, Ahmad bin Hambal. Padahal, imam Ahmad bin Hambal -sebagai pendiri mazhab Ahlul-Hadis yang diakui sebagai panutan Ibnu Taimiyah dari berbagai ajaran dan metode mazhabnya- juga beberapa imam ahli hadis lain –seperti Ismail al-Qodhi, an-Nasa’i, Abu Ali an-Naisaburi- telah mengatakan: “Tiada datang dengan menggunakan sanad yang terbaik berkaitan dengan pribadi satu sahabat pun, kecuali yang terbanyak berkaitan dengan pribadi Ali. Ali tetap bersama kebenaran, dan kebenaran bersamanya sebagaimana ia berada”.[26]

Dalam masalah kekhilafahan Ali, Ibnu Taimiyah pun dalam beberapa hal meragukan, dan bahkan melecehkannya. Di sini dapat disebutkan contoh dari ungkapan Ibnu Taimiyah tentang kekhalifahan Ali:

1. “Kekhilafahan Ali tidak menjadi rahmat bagi segenap kaum mukmin, tidak seperti (yang terjadi pada) kekhilafahan Abu Bakar dan Umar”.[27]

2. “Ali berperang (bertujuan) untuk ditaati dan untuk menguasai atas umat, juga (karena) harta. Lantas, bagaimana mungkin ia (Ali) menjadikan dasar peperangan tersebut untuk agama? Sedangkan jika ia menghendaki kemuliaan di dunia dan kerusakan (fasad), niscaya tiada akan menjadi pribadi yang mendapat kemuliaan di akherat”.[28]

3. “Adapun peperangan Jamal dan Shiffin telah dinyatakan bahwa, tiada nash dari Rasul.[29] Semua itu hanya didasari oleh pendapat pribadi. Sedangkan mayoritas sahabat tidak menyepakati peperangan itu. Peperangan itu, tidak lebih merupakan peperangan fitnah atas takwil. Peperangan itu tidak masuk kategori jihad yang diwajibkan, ataupun yang disunahkah. Peperangan yang menyebabkan terbunuhnya banyak pribadi muslim, para penegak shalat, pembayar zakar dan pelaksana puasa”.[30]

Untuk menjawab pernyataan Ibnu Taimiyah tadi, cukuplah dinukil pernyataan beberapa ulama Ahlusunnah saja, guna mempersingkat pembahasan.

Al-Manawi dalam kitab Faidh al-Qadir dalam menukil ungkapan al-Jurjani dan al-Qurthubi menyatakan: “Dalam kitab al-Imamah, al-Jurjani mengatakan: “Telah sepakat (ijma’) ulama ahli fikih (faqih) Hijaz dan Iraq, baik dari kelompok ahli hadis maupun ahli ra’yi semisal imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah dan Auza’i dan mayoritas para teolog (mutakallim) dan kaum muslimin, bahwa Ali dapat dibenarkan dalam peperangannya melawan pasukan (musuhnya dalam) perang jamal. Dan musuhnya (Ali) dapat dikelompokkan sebagai para penentang yang zalim”. Kemudian dalam menukil ungkapan al-Qurthubi, dia mengatakan: “Telah menjadi kejelasan bagi ulama Islam berdasar argumen-argumen agama, bahwa Ali adalah imam. Oleh karenanya, setiap pribadi yang keluar dari (kepemimpinan)-nya, niscaya dihukumi sebagai penentang yang berarti memeranginya adalah suatu kewajiban hingga mereka kembali kepada kebenaran, atau tertolong dengan melakukan perdamaian”.[31]

Bersambung…

——————————————-

Rujukan:

[2] Dalam kitab Mustadrak as-Shohihain Jil:3 Hal:483 karya Hakim an-Naisaburi atau kitab Nuur al-Abshar Hal:69 karya as-Syablanji disebutkan, bahwa Ali adalah satu-satunya orang yang dilahirkan dalam Baitullah Ka’bah. Maryam ketika hendak melahirkan Isa al-Masih, ia diperintahkan oleh Allah untuk menjauhi tempat ibadah, sedang Fatimah binti Asad ketika hendak melahirkan Ali, justru diperintahkan masuk ke tempat ibadah, Baitullah Ka’bah. Ini merupakan bukti, bahwa Ali memiliki kemuliaan tersendiri di mata Allah. Oleh karenanya, dalam hadis yang dinukil oleh Ibnu Atsir dalam kitab Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:31 dinyatakan, Rasul bersabda: “Engkau (Ali) sebagaimana Ka’bah, didatangi dan tidak mendatangi”.

[3] Pembunuh Ali, Abdurrahman bin Muljam al-Muradi, dalam banyak kitab disebutkan sebagai paling celakanya manusia di muka bumi. Lihat kitab-kitab semisal Thobaqoot Jil:3 Hal:21 karya Ibnu Sa’ad, Tarikh al-Baghdadi Jil:1 Hal:135, Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:24 karya Ibnu Atsir, Qoshos al-Ambiya’ Hal:100 karya ats-Tsa’labi.

[4] Dalam kitab Fathul-Bari disebutkan bahwa pribadi-pribadi seperti imam Ahmad bin Hambal, imam Nasa’i, imam an-Naisaburi dan sebagainya mengakui bahwa hadis-hadis tentang keutamaan Ali lebih banyak dibanding dengan keutamaan para sahabat lainnya.

[5] Lihat Tarikh at-Tabari Jil:2 Hal:62

[6] Minhaj as-Sunnah Jil:8 Hal:281, karya Ibnu Taimiyah al-Harrani

[7] Lihat Shohih Muslim Kitab: Fadho’il as-Shohabah Bab:Fadhoil Ahlul Bait an-Nabi, Shohih at-Turmudzi Jil:2 Hal:209/319, Tafsir ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirakan surat 33:33 Jil:5 Hal:198-199, Musnad Ahmad bin Hambal Jil:1 Hal:330 atau Jil:6 Hal:292, Usud al-Ghabah karya Ibnu al-Atsir Jil:2 Hal:20 atau Jil:3 Hal:413, Tarikh al-Baghdadi Jil:10 Hal:278…dsb

[8] Jamii’ al-Jawami’ Jil:6 Hal:398, karya as-Suyuthi

[9] Kanz al-Ummal Jil:6 Hal:156, karya al-Muttaqi al-Hindi

[10] Hilliyah al-Auliya’ Jil:1 Hal:65, karya Abu Na’im al-Ishbahani

[11] al-Istii’ab Jil:3 Hal:40, karya al-Qurthubi, atau Tarikh al-Khulafa’ Hal:115 karya as-Suyuthi

[12] Tadzkirah al-Khawash Hal:87, karya Sibth Ibn al-Jauzi

[13] al-Istii’ab Jil:3 Hal:40

[14] Al-Ishobah Jil:2 Hal:509, karya Ibnu Hajar al-Asqolani, atau Hilliyah al-Auliya’ Jil:1 Hal:65

[15] Miftah as-Sa’adah, Jil:1 Hal:400

[16] Siar A’lam an-Nubala’ (khulafa’) Hal:239, karya adz-Dzahabi

[17] Al-Bidayah wa an-Nihayah Jil:7 Hal:332

[18] Minhaj as-Sunnah Jil:7 Hal:511 & 461

[19] Ibid Jil:8 Hal:97

[20] Ibid Jil:7 Hal:515

[21] Ibid Jil:7 Hal:512

[22] Ibid Jil:7 Hal: 535

[23] Ibid Jil:5 Hal:513

[24] Ibid Jil:6 Hal:18

[25] Ibid Jil:8 Hal:234

[26] Dinukil dari Fathul Bari Jil:7 Hal:89 karya Ibnu Hajar al-Asqolani, Tarikh Ibnu Asakir Jil:3 Hal:83, Siar A’lam an-Nubala’ (al-Khulafa’) Hal:239

[27] Minhaj as-Sunnah Jil:4 Hal:485

[28] Ibid Jil:8 Hal:329 atau Jil:4 Hal:500

[29] Pernyataan aneh yang terlontar dari Ibnu Taimiyah. Apakah dia tidak pernah menelaah hadis yang tercantum dalam kitab Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:139 dimana Abu Ayub berkata pada waktu kekhilafahan Umar bin Khatab dengan ungkapan; “Rasulullah telah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memerangi kaum Nakitsin (Jamal), Qosithin (Shiffin) dan Mariqin (Nahrawan)”. Begitu pula yang tercantum dalam kitabTarikh al-Baghdadi Jil:8 Hal:340, Usud al-Ghabah karya Ibnu Atsir Jil:4 Hal:32, Majma’ az-Zawa’id karya al-Haitsami Jil:9 Hal:235, ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirkan ayat ke-41 dari surat az-Zukhruf, dsb? Ataukah Ibnu Taimiyah sudah tidak percaya lagi kepada para sahabat yang merawikan hadis tersebut? Bukankah ia telah terlanjur menyatakan bahwa sahabat adalah Salaf Saleh yang ajarannya hendak ia tegakkan?

[30] Ibid Jil:6 Hal:356

[31] Faidh al-Qodir Jil:6 Hal:336

« Tabarruk 2; Tabarruk dalam Pandangan al-Quran Tabarruk 3; Tabarruk Para Salaf Saleh dari Pribadi Rasul »

75 Responses to “Siapa Bilang Ibnu Taimiyah Ahlusunah? (Bag-I)”

syafi'in, di/pada Mei 23rd, 2007 pada 3:14 Dikatakan:

mas sastro yth,

saya bingung dengan pemikiran Syekh Ibnu Taimiyah ini. disatu pihak Ibnu Taymiyah dan pengikutnya menyerukan agar orang mengikuti Salaf, tetapi salah satu tokoh Salaf Saleh yaitu Ali bin Abi Thalib k.a, yang jasa-jasanya terhadap Islam luar biasa dan keilmuannya serta keutamaannya (fadailnya) banyak sekali. kok malah dikritik habis & dibenci seperti itu ya? padahal beliau (Ali k.a) salah satu khulafa ar-Rasyidin.

lha kok malah musuhnya yaitu Muawiyah bin Abu Sofyan dibela mati-matian padahal dia adalah pemberontak pemerintahan yang syah [kekhilafaan Ali ra].

Bukankah Salafiyun/Wahaby marah besar jika ada orang yang mengkritik salah satu sahabat? nah ini Ibnu Taymiyah malah mengkritik abis salah satu tokoh besar sahabat (salaf Saleh). Salafy kok diam saja ya?

Saya heran kenapa hadis-hadis tentang keutamaan Ali k.a tersebut ditolak mentah-mentah, padahal hadis-hadis tersebut dimuat di kitab-kitab Shahih bahkan Shahih Bukhari yang katanya Salafiyun/Wahaby kalo ada yang mendhoifkan berarti “sesat”. Nah apakah Salafiyun/wahaby berani mensyesatkan Ibnu Taimiyah yang menolak hadis Bukhari yang shahih tersebut?

Sebagai contoh hadis Bukhari yang disebut dalam tulisan diatas.

“[Kemampuan Ali dalam memutuskan hukum: “Hadis “aqdhakum Ali” (paling baik dalam pemberian hukum diantara kalian adalah Ali) belum dapat ditetapkan (kebenarannya)”.[21] Minhaj as-Sunnah Jil:7 Hal:512, karya Ibnu Taimiyah al-Harrani].

Para perawi Hadis ini(termasuk Bukhari), dan hadis ini terdapat di kitab-kitab antara lain:

1. Shahih al-Bukhari, kitab tafsir, bab firman Allah “Maa Nansakh min ayatin au nunsiha na’ti bikhoiri minha(al-Baqarah:106). Sebagai tambahan bisa dilihat juga hadis ini dalam situs Salafy [www.salafipublications.com] yang memuat terjemahan bahasa Inggris Shahih Bukhari Hadis No. 4156 [http://www.sahihalbukhari.com/sps/sbk/]

2. Ad-dur al-Mantsur
3. An-Nasai
4. Ibnu al-Anbari
5. Dalail an-Nubuwah, oleh al-Baihaqi
6. Juga dimuat dalam Thabaqat ibnu Sa’ad
7. Musnad Ahmad bin Hanbal
8.Tarjamah (Biografi) Ali ra. Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah.
9. Mustadrak ala al-shahihain, dalam kitab ini al-Hakim menshahihkan hadis tersebut.
10. Al-Isti’ab
11. Usdul-Ghabah
12. Hiliya al-Auliya’.
13.al-Riyad al-Nadrah
14. Dan lain-lain kitab [lihat at-Thababaqat al-Kubro

· Ali as. telah ditetapkan kesuciannya olehn Allah SWT dalam ayat at That-hîr dan dikhususkan Nabi dalam hadis al Kisâ’.

· Ali as. adalah wali kaum Mukminin sebagaimana ditetapkan dalam ayat al Wilayah:

إِنمَّاَ وَلِيُّكُمُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ الَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَ يُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَ هُمْ رَاكِعُوْنَ * وَ مَنْ يَتَوَلَّ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ الَّذين آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْغَالِبُوْنَ . (المائدة 55-56).

“Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk {kepada Allah}. Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut {agama} Allah itulah yang pasti menang. (QS:5;55-56)

Dan dalam Khutbah Ghadir nabi saw. bersabda:

مَنْ كُنْتُ مَولاهُ فَعَلِيٌّ مولاهُ…

“Barang siapa yang aku pemimpinnya maka Ali juga pemimpinnya… .”

Di manakah tempat untuk membanding-bandingkan Ali as. dengan selainnya?! Sementara beliau as. adalah orang pertama yang akan melaporkan kasus penganiayaan umat terhadapnya kelak di hari kiamat, seperti diriwayatkan Imam Bukhari dala Shahihnya:

أَنا أَوَّلُ مَنْ يَجْثُو بينَ يَدَيْ الرحمن للْخُصُومَةِ يومَ القيامَةِ.

“Aku orang pertama yang akan bertegak lutut di hadapan Allah Dzat Yang Maha Rahman di hari kiamat untuk melaporkan sengketa.” [4]

Ali as. bersabda:

لا يُقَاسُ بِآلِ مُحَمَّد(عليهم السلام)مِنْ هذِهِ الاُمَّةِ أَحَدٌ، وَلا يُسَوَّى بِهِمْ مَنْ جَرَتْ نِعْمَتُهُمْ عَلَيْهِ أبَداً. هُمْ أَسَاسُ الدِّينِ، وَعِمَادُ اليَقِينِ، إِلَيْهمْ يَفِيءُ الغَالي، وَبِهِمْ يَلْحَقُ التَّالي، وَلَهُمْ خَصَائِصُ حَقِّ الوِلايَةِ، وَفِيهِمُ الوَصِيَّةُ وَالوِرَاثَةُ،

“Tidaklah dapat disbanding-bandingkan Âlu (keluarga suci) Muhammad as. dengan seorangpun dari umat ini dan tidaklah sama sekali layak disamakan dengan mereka sesiapa yang kenikmatan Allah atasnya itu lewat mereka. Mereka adalah pmdasi agama, pilar-pilar keyakinan. Kepada mereka orang yang berlebihan akan kembali, dan kepada mereka orang yang teledor akan menyusul. Hanya mereka yang memiliki kekhususan hak kewalian dan hanya pada merekalah wasiat dan pewarisan.”[5]

Raslullah saw. juga bersabda:

نَحنُ بنُوا عبدِ المطَّلِب سادَةُ أهْلِ الجنَّةِ؛ أنا و حمزَةُ و علِيٌّ و جعْفَرُ و الحسنُ و الحسينُ و المهْدِيْ.

Kam keluarga besar banu Abdul Muththalib adalah penghulu-penghulu ahli surga; aku, Hamzah, Ali, ja’far, Hasan dan Husain serta al Mahdi.”[6]

Ibnu Taymiah berkata:

ما اختلفَ أَحَدٌ مِنَ الصحابَةِ و التابعين في تفضيْلِ أبي بكر و عمر و تَقْديمِهِما على جميعِ الصحابَةِ.

“Tidak seorangpun dari sahabat dan tabi’in berselisih bahwa Abu Bakar dan Umar lebih afdhal atas seluruh sahabat.’”[7]

Ibnu Taymiah berbual:

مَنْ عرفَ حالَ ابنِ عباسِ علِمَ أَنَّهُ كان يُفَضِّلُ أبابكر وعمرَ علَى عَلِيٍّ-رضِيَ اللهُ عنهُمْ-.

“Barangsiapa mengenal keadaan Ibnu Abbas pasti ia mengetahui bahwa ia mengutamakan Abu bakar dan Umar atas Ali …” [8]

Ibnu Taymiah di bawah ini:

و المُتواتِرعَنهُ أنَّهُ كانَ يُفَضِلُّ عليهِ أبا بكرٍ و عُمَرَ, و َلَهُ مُعايَباتٌ يَعِيْبُ بِها عَلِيًّا و يَأْخُذُ عليهِ أشياءَ مِنْ أمورِهِ …

“Dan yang mutawâtir darinya (ibnu Abbas ra.) bahwa ia mengunggulkan Abu Bakar dan Umar atas Ali. Dan ia memilii banyak celaan, ia mencela Ali dengannya dan menyalahkan Ali dalam banyak urusannya…”[9]

Ibnu Taymiah berkata:

إِنَّ العِترَةَ لَمْ تَجْتَمِعْ على إمامَتِهِ ولا أَفضَلِيَّتِهِ، بلْ أَئِمَّةُ العترَةِ كابنِ عباس و غيرِهِ يُقَدِّمُوْنَ أبا بكر و عمر….

و النَقْلُ الثابِتُ عَنْ جميعِ علماءِ أهلِ البيتِ من بني هاشم من التابعين و تابِعِيْهِمْ مِنْ وُلْدِ الحسينِ بنِ علِيٍّ و ولدِ الحسنِ و غيرِهِم كانوا يَتَوَلَّوْنَ أبا بكر و عمر ، و كانوا يُفَضِّلُونهُما على عَلِيٍّ، و النقولُ عنهم ثابِتَةٌ متواتِرَةٌ!

“Sesunggunhya Itrah (keluerda dekar Nabi saw.) tidak bersepakat atas keimamahan dan keunggulannya (Ali), bahkan para imam itrah seperti Ibnu Abbas dan lainnya mengutamakan Abu Bakar dan Umar (dalam imamah dan keunggulan)….

Dan penukilan yang pasti dari seluruh ulama Ahlulbait dari bani hasyim, baik dari generasi tabi’in atau setelahnya dari keturunan Husain dan keturunan Hasan dan selainnya, mereka telah sepakat mendukung kekhilafahan Abu bakar dan Umar dan mereka mengutakanan keduanya atas Ali. Penukilan ini dari mereka telah tetap/pasti dan mutawâtir.[10]

Turunnya ayat 274 surah al Baqarah Untuk Imam Ali as. adalah Bohong!

Ditulis pada oleh Zainal Abidin

Satu lagi aksi unjuk kedengkian yang dipamerkan Ibnu Taymiah terhadap orang-orang suci. Kali ini sasarannya serangan penolakannya diarahkan kepada ayat Alqu’an yang mengabadikan kedermawanan Imam Ali as.

Ikuti ulasan di bawah ini.

Allah SWT berfirman:

الذينَ يُنْفِقُونَ أموالَهُمْ بالليلِ و النهارِ سِرًّا و علانِيَة فَلَهُم أجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ولا خَوْفٌ عليهم ولا هُمْ يَحْزِنُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2 [al Baqarah];274)

Para ulama dan mufassirin meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra. bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Imam Ali as. ketika beliau mensedkahkan empat dirham di jalan Allah SWT. satu dirham dalam keadaan rahasia dan satu dirham dalam keadaan terang-terangan, satu dirham lagi di siang hari dan yang keempat di malam hari. Setelahnya Allah SWT menurunkan ayat tersebut di atas.

Ayat di atas dengan tafsiran sebab nuzûlnya dari Ibnu Abbas ra. telah diangkat oleh Allamah al Hilli sebagai bukti imamah Ali as. karena beliau- melalui ayat ini dapat dibuktikan sebagai- yang paling afdhal/termulia, kerenanya berhak menjabat sebagai Imam.

Turunnya ayat di atas untuk Imam Ali as. telah diriwayatkan banyak ulama besar Ahlusunnah, tidak terkecuali mereka yang sering dibanggakan Ibnu Taymiah, diantaranya: Abdur Razzaq, Abdu ibn Humaid, Ibnu Jarir ath Thabari, Ibnu al Mundzir, Ibnu Abi Hatim, ath Thabarani, Ibnu Asakir, Al Wahidi, Abu Nu’aim al- Isfahani, Fakhruddin ar Razi, az Zamakhsyari, Muhibbuddin ath Thabari, Ibnu al Atsîr, Jalaluddfin as Suyuthi, Ibnu Hajar al Haitami al Makki dll.

Inilah beberapa nama ulama besar dan kenamaan Ahlusunnah yang meriwayatkan atau menyebutkan hadis di atas dalam buku-buku berharga mereka, dan selain mereka masih banyak lainnya seperti al Hiskani, Ibnu al Maghazili asy Syafi’i, Ibnu al Jawzi dll. [1]

Sanad-sanad jalur periwayatnya pun jelas dan telah mereka sebutkan dengan lengkap. Jadi bagi yang berminat meneliti dapat merujuknya langsung.

Setelah ini semua, coba kira-kira yang akan dikatakan Ibnu Taymiah yang gemar menolak keutamaan Imam Ali as. itu. Perhatikan keterangannya di bawah ini:

أنَّ هذا كِذْبٌ ليسَ بثابِتٍ….

لَكنْ هذه التفاسِيْر الباطِلَة يقُولُ مِثْلَها كثيرٌ مِنَ الجهالِ…

فَتَبَيَّنَ أَنَّ الذي كذبَ هذا كان جاهِلاً بِدلالَةِ القُرْآنِ، و الجهْلُ في الرافِضَةِ ليسَ بِمُنْكَرٍ.

Ini adalah bohong, tidak tetap (palsu)…

Akan tetapi tafsir-tafsir batil ini, banyak orang-orang bodoh telah mengatakan (berpendapat) sepertinya…

Maka jelaslah bahwa yang berbohong dengan keboohongan ini adalah orang yang bodoh akan petunjuk Al Qur’an, dan kebodohan di kalangan orang-orang Rafidhah bukan hal aneh![2]

Seri Kebohongan “Syaikhul Islam” Ibnu Taymiah (1)

Ditulis pada oleh Zainal Abidin

Dipersembahkan kepada haulasyiah dan wahhabiyyun salafiyun

Sebelum anda membaca artikel kami dibawah ini, dan mengikuti pembuktian kami atas kebohongan Imam Besar Wahhabi/Salafy “Ibnu Taymiah”, kami ingin terlebih dahulu mengajak anda memperhatikan ucapan dan dusta Ibnu Taymiah dalam kitabnya “Minhajussunnah”.

Untuk kenetralan ilmiah Kami Scan-kan kitab Ibnu Taymiah yang diterbitkan oleh Institusi Wahabi yaitu “Universitas al-Imam Muhammad bin Saud al-Islamiyah” yang berada di negara sarang wahabi/salafy “Saudi Arabia”.

Buku ini diterbitkan 9 jilid dan di “tahqiq” oleh Dr. Muhammad Rasyad Salim, serta diberi kata pengantar oleh Dr. Abdullah bin Abdul-Muhsin at-Turky.
_______________

Kebohongan Ibnu Taymiah Tentang Hadis Turunnya Ayat al-Wilayah Untuk Imam Ali as. !

SCAN 1

ayat-wilayah1b_rsz2

ayat-wilayah1_rsz2

وَقَدْ وَضَعَ بَعْضُ الكَذَّابِيْنَ حَدِيْثًا مُفْتَرًى: أَنَّ هذه الآيَةَ نَزَلَتْ فِيْ عليٍّ لَمَّا تَصَدَّقَ بِخاتَمِهِ في الصلاةِ، و هذا كِذْبٌ بِإِجماعِ أهِلِ العِلْمِ بالنقْلِ، كِذْبَُهُ بيِّنٌ مِنْ وُجوهٍ كَثِيْرَةٍ

“Para pembohong telah memalsukan hadis buatan bahwa ayat “انما وليكم الله …” turun untuk Ali ketika ia mensedekahkan cincinnya dalam shalat, itu adalah bohong/palsu berdasarkan kesepakatan para ulama dan Ahli Hadis, dan kebohongannya telah tampak dari banyak sisi.”

[Minhajussunnah Jilid 2, hal. 30 (lihat scan diatas)]

SCAN 2 dan 3

ayat-wilayah2b3b_rsz

ayat-wilayah2_rsz

قولُهُ: قَدْ أجْمَعَوا أنَّها نزَلَتْ فيِ علِيٍّ مِنْ أَعْظَمِ الدَعاوِيْ الكاذِبَةِ، بَلْ أَجْمَعَ أهْلُ العلْمِ بالنقْلِ على أنَّها لَمْ تَنْزِلْ في علِيٍّ بخُصُوصِهِ، أنَّ عليًّا لِمْ يَتَصدَقْ بِخاتَمِهِ في الصلاةِ، و أجمَعَ أهْلُ العلْم بالحديثِ على أنَّ القصَّةَ الْمروِيَّةَ في ذلِكَ مِن الكذبِ الموضوعِ….


“Ucapannya bahwa ayat ini telah disepakati turun untuk Ali adalah paling dustanya pengakuan. Bahkan para ulama ahli hadis telah bersepakat bahwa ia tidak khusus turun untuk Ali, dan Ali tidak mensedekahkan cincinnya. Para ulama ahli hadis telah bersepakat bahwa kisah yang diriwayatkan tentang masalah itu adalah kobohongan dan palsu…”

[Mihajussunnah, jilid 7 hal. 11 (lihat scan diatas)]

ayat-wilayah3_rsz

Terjemahan dari ucapan Ibnu Taymiah yang kami blok dengan warna merah:

“Dan jumhur umat tidak mendengar berita ini, dan tidak ada di kitab-kitab andalan kaum muslimin, tidak di kitab-kitab shahih, tidak di kitab-kitan sunan, dan tidak di kitab-kitab jamik….”

[Minhajussunnah, Jilid 7, hal. 17. lihat scan diatas

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda