artikel, skripsi dan tesis islam

artikel, skripsi dan tesis islam pilihan untuk pencerahan pemikiran keislaman

Rabu, 21 Januari 2009

Menjawab Sidogiri (1)

Menjawab Sidogiri (1)
Ditulis pada Maret 19, 2008 oleh Ibnu Jakfari

Syi’ah Dan Al Qur’an

Dalam kitab Mungkinkah SUNNAH- SYIAH DALAM UKHUWAH? yang ditulis Tim Penulis Sidogiri sebagai bantahan atas buku Dr. Sayyid Quraish Shihab Sunnah-Syiah Bergandeng Tangan! Mungkinkah? itu, sepertinya Tim Penulis terlalu bernafsu dalam menyerang Syi’ah Imâmiyah Ja’fariyah Itsnâ ’Asyariyah, sehingga pada akhirnya menyimpulkan bahwa tidak mungkin dirajut tali Ukhuwwah Islamiyah di antara kedua mazhab Islam itu! Berbeda dengan para ulama mushlihîn yang berjuang demi terwujudnya pendekatan dan ukhuwwah di antara berbagai elemen umat Islam dari beragam aliran dan mazhab, seperti yang diprakarsai oleh para pembesar dari kedua mazhab ini, di antara mereka adalah Syeikh Hasan al Bannâ (Pendiri Ikhwanul Muslimin), Syeikh Salîm Bishri (Rektor al Azhar), Syeikh Syaltut (Rektor al Azhar), Syeikh Muhaammad al Madani, Syeikh Yusuf Qardhawi, Fathi Yakkan, Sayyid Imam al Burjurdi (Pemimpin Tertinggi Syi’ah di zamannya), Syeikh Muhmmad Jawad Mughniah (ulama Syi’ah Lebanon), Imam Khumaini dan puluhan bahkan raatusan lainnya.

Ide dan kesimpulan tidak mungkin diwujudkannya persatuan dan ukhuwwah Islamiyah di antara kedua mazhab ini didasarkan pada beberapa asumsi, yang paling menonjol adalah asumsi adanya perbedaan yang mendasar dalam ushûluddin (pokok-pkok ajaran agama) dan tidak sekedar pada tataran furû’uddin (cabang-cabang agama/fikih) semata.

Di antara perbedaan mendasar itu adalah pandangan yang berbeda antara Syi’ah dan Ahlusunnah tentang Al Qur’an al Karîm….

Akan tetapi setelah diteliti adanya perbedaan yang mendasar dalam tataran ushûluddin hanya sebuah isu yang tidak bisa dipertahankan… ia dibangun di atas anggapan yang tidak berdasar!! Sebab pada dasar-dasar keyakinan yang menentukan islam tidaknya seseorang atau sebuah kelompok yaitu imam kepada keesaan Allah SWT, akan adanya hari akhir, dan kerasulan Nabi Muhammad saw. Sebagai nabi penutup telah terpenuhi baik pada pihak Ahlusunnah sebaagaimana juga terpenuhi pada pihak Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah Itsâ ‘Asyaariyah!

Dalam kesempatan ini saya tidak dalam rangka menjawab buku tersebut dan berbagai penyimpangan-penyimpangannya. Untuk sementara ini saya hanya akan menfokuskan sorotan saya atas tuduhan palsunya terhadap Syi’ah dalam keyakinannya tentang Al Qur’an al Karîm.

Namun sebelumnya saya perlu menyampaikan beberapa catatan tentang kesalahan metodologi banyak pihak yang meyerang Syi’ah dan ajarannya.

Pertama, Mereka mendasarkan serangan dan kecamannya atas akidah Syi’ah dari Kitab-kitab Hadis. Semantara itu, semestinya akidah sebuah mazhab dan aliran hendaknya diteliti dan dikaji dari kitab-kitab akidah mu’tabarah mazhab tersebut. Sebab bisa saja kitab-kitab hadis itu memuat hadis/riwayat yang tidak diterima oleh ulama mazhab tersebut atau paling tidak oleh jumhur mereka.

Kedua, Pendapat yang akan dinisbahkan kepada mazhab tertentu hendaknya merupakan pendapat manyoritas dan bukan sekedar pendapat individu atau segelintir dari mereka. Adalah hal tidak adil apabila kita menisbahkan pendapat tertentu kepada mazhab tertentu sementara pendapat itu tidak diakui oleh para ulama terkemuka mazhab tersebut!

Ketiga, Bagi seorang peneliti, hendaknya ia menjadikan buku-buku pemuka mazhab tersebut sebagai rujukan utama dan bukan buku-buku lawan mazhab itu!

Keempat, Hendaknya kita tidak mengecam sesuatu yang ada dalam mazhab lain yang sedang kita teliti sementara hal yng sama juga ada dalam mazhab kita, namun kita menutup mata, seakan hendak mengelabui kaum awam bahwa “borok” itu hanya ada di pihak lain!

Kelima, Dan yang tidak kalah pentingnya, adalah kejujuran dalam menukil hadis atau pendapat ulama mazhab tertentu yang sedang ia teliti.

Setelah memerhatikan lima poin mukaddimah di atas, mari kita perhatikan apa yang dilakukan oleh teman-teman Tim Penulis Sidogiri dalam hujtannya atas Syi’ah dan akidahnya, khususnya tentang Al Qur’an al Karîm.

Pertama-tama Tim Sidogiri menggambarkan keyakinan Ahlusunnah tentang Al Qur’an adalah sebagai kitab Allah SWT yang terpelihara, “Selain penjagaan secara intensif yang dilakukan umat Islam, al Qur’an al-Karim telah mendapat jaminan penjagaan langsung dari Allah SWT. Dalam al-Qur’an al-Karim ditegaskan:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ.

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar- benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr[15]:9 (

Demikianlah keyakinan yang selalu dipedomi oleh Ahlusunnnah wal jama’ah. Al Qur’an yang dibaca hari ini, dalam keyakinan Ahlusunnah, adalah persis sama dengan apa yang dibaca oleh Rasulullah saw. Dan umat Islam generasi awal (para sahabat). Di dalamnya tidak terdapat pengurangan, penambahan ataupun disktorsi sedikit pun, sebab penyelewengan-penyelewengan itu dijamin tidak akan pernah menyentuh al-Qur’an al-Karim.” (Mungkinkah SUNNAH- SYIAH DALAM UKHUWAH? :299-300)

Setelahnya buku itu menyebutkan bahwa keyakinan Syi’ah tentang Al Qur’an al Karîm adalah bertolak belakang dengan kayakinan Ahlusunnah, “Sebagaimana telah dimaklumi sejak lama, bahwa sekte ini menganggap bahwa al-Qur’an al-Karim tak lagi orisinil dan telah mengalami perubahan-perubahan….

Pandangan orang-orang Syi’ah tersebut sudah umum diketahui, baik di kalangaan anti-Syiah maupun bukan… “ (Ibid.300-301)

Kemudian buku itu menghujat Dr. Quraish Shihab yang menyebut bahwa keyakinan Syi’ah tentang Al Qur’an adalah sama dengan keyakinan Ahlusunnah dan umat Islam lainnya!

Beberapa mana ulama besar dan tokoh Syi’ah, di antaranya Syeikh Mufid dan Syeikh al Faidh al Kâsyâni yang konon kata penulis buku Risalah jawâbiyah ‘ala Mudzakarat Ustadz Syi’i Istâ ‘Asyari; Prof. Dr. Ahmad bin Sa’d Hamdan al-Ghamidi meenegaskan keyakinan akan perubahan Al Qur’an!

Dan demi ilmiahnya sebuah penelitian, sudah seharusnya Tim Sidogiri menyertakan pernyataan para tokoh Syi’ah tersebut agar dapat dibaca langsung oleh para pemerhati dan peneliti dan bukan hanya bertaqlid buta kepada seorang penulis Wahhabi tanpa mengkomfirmasi akuransi tulisannya.

Di sini, ada kekhawatiran bahwa Tim Penulis Sidogiri tidak pernah membaca langsung buku-buku Syi’ah yang sedang ia serang ajarannya. Mereka justru berujuk dan menjadikan buku-buku yang ditulis oleh musuh-musuh Syi’ah dari kalangan sarjana-sarjana Wahhabi sebagai rujukan andalannya. Kekhawatiran itu dikuatkan oleh kutipan-kutipan yang disajikan. Namun terlepas dari itu, dan saya tidak terlalu peduli dengannya, terlihat jelas kenaifan dan kesalahan metodologi penulisan dan penelitian yang mereka lakukan….

Di sini sekedar untuk membuktikan kesalahan itu, kami akan sebutkan pernyataan Syeikh Mufid dalam kitab ‘Awâil al Maqâlât:

وَ قَدْ قال جماعَةٌ مِنْ أهل الإمامة: إنَّه لم ينقص من كلمة، ولا آية ، ولا سورة، و لكن حُذِفَ ما كان مثبَتًا في مصحف أمير المؤمنين (عليه السلام) من تَأويليه، و تفسير معانيه على حقيقة تنزيله، و ذلك كان ثابتًا مُنَزَّلاً و إنْ لِمْ يكن من جملةِ كلام الله تعالى الذي هو القرآن المعجِز. و عندي أنَّ هذا أشبهُ من مقال من ادَّعى نُقْصان كلِمٍ من نفسِ القرآن على الحقيقة دون التأويل. ’ إليه أميلٌ، و الله أسأل توفيقه للصواب.

“Telah berkata sekelompok Ahli imamah (Syi’ah): bahwa Al Qur’an tidak berkurang walaupun hanya satu kata, atau satu ayat atau satu surah, akan tetapi (yang) dihapus (adalah) apa-apa yang tetap dalam mush-haf Amirul Mukminin (Ali) as. berupa ta’wîl dan tafsir makna-maknanya sesuai dengan hakikat tanzîlnya. Yang demikian (ta’wîl dan tafsir) adalah tetap, terbukti telah diturunkan (Allah) walaupun ini bukan dari bagian firman Allah sebagai Al Qur’an yang mu’jiz (mu’jizat). Dan menurut saya pendapat ini lebih tepat dari pada pendapat orang yang menganggap adanya pengurangan beberapa firman dari Al Qur’an itu sendiri bukan ta’wîl nya. Dan saya cenderung kepada pendapat ini. Hanya kepada Allah lah saya memohon tawfiq untuk kebenaran.” (‘Awâil al Maqâlât fî al Madzâhib al Mukhtârât: 55-56.).

Di sini saya tidak bermaksud untuk lebih membongkar ketidak ilmiahan kajian dan penelitian yang dilakukan Tim Penulis Sidogiri dengan menyebut pernyataan-pernyataan ulama Syi’ah yang mereka tuduh meyakini tahrîf, padahal tidak! Dan atas dasar contoh di atas; ketidak jujuran dan tidak terpenuhinya unsur-unsur ilmiah dalam sebuah penelitian, maka dapat Anda qiyaskan penukilan-penukilan lainnya. Belum lagi banyak nama yang disebut itu tidak pernah memberikan pernyataan sedikti pun tentang masalah ini, seperti nama Syeikh al Ayyasyi dan Furât al Kûfi (dua tokoh mufassir klasik Syi’ah), hanya dengan satu alasan bahwa beliau menyebutkan beberapa riwayat yang disinyalir menunjukkan adanya tahrîf pada Al Qur’an al Karîm!! Sebuah cara berpikir picik dan metode penyimpulan yang sangat tidak ilmiah. Sebab apabila hanya sekedar menyebutkan atau meriwayatkan riwayat yang menunjukkan adanya tahrîf seorang dapat dituduh meyakini tahrîr maka orang dapat menggolongkan Imam Bukhari, Imam Muslim, dan imam-imam hadis Ahlusunnah dan para mufassir lainnya, seperti Jalaluddin as Suyuthi, ar Razi, Ibnu Katsir dll. juga sebagai yang meyakini adanya tahrîf Al Qur’an, sebab mereka telah meriwayatkannya!!!

Tentang sikap al Faidh al Kâsyâni terhadap kesucian Al Qur’an, kami persilahkan Tim Penulis dan para Kiay Sidogiri untuk merujuk langsung pernyataan beliau dalam Mukaddimah keenam dalam tafsir ash Shâfi, tafsir bil ma’tsûr yang ditulis oleh al Faidh al Kâsyâni:1/40-55. Selain itu, kitab tafsir al Ashfâ karya beliau juga dapat dirujuk pada tafsir ayat:

وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ.

Beliau berkata menafsirkan:

من التحريف و التغيير و الزيادة و النقصان.

“Dari tahrîf, perubahan, penambahan dan pengurangan.” (Al Ashfâ Fî tafsîr al Qur’ân:34 8)

Dan juga diharap merujuk penegasan beliau dalam kitab al Wâfi,1/273-274.

Dan apabila Perpustakaan Sidogiri belum mengoleksi kitab-kitab para ulama Syi’ah maka akan lebih terhormat jika mereka tidak “cawe-cawe” bicara Syi’ah!! Sebab nanti pasti khathauhu aktsar min Shawabihi (kesalahannya akan lebih banyak dari benarnya).



Riwayat Tahrîf Dalam Kitab-kitab Syi’ah

Sementara saya cukupkan dalam tanggapan saya tentang sikap mazhab Syi’ah yang dituduh meyakini tahrîf Al Qur’an sampai di sini. Saya akan menyoroti kesalahan lain dalam metodologi penelitian dan pengkajian (ma’af bukan pengajian yang biasa digelar para Kiay di hadapan kaum awam), di mana Tim Penulis Sidogiri menyebut tiga riwayat yang dianggapnya mewakili keyakinan Syi’ah akan terjadinya tahrîf pada Al Qur’an al Karîm.

Buku Sidogiri menyebutkan, “Dengan demikian, pernyataan bahwa tahrîf al-Qur’ân merupakan ijmâ’ (konsensus) ulama Syiah bukanlah hal yang aneh. Terlebih, dalam kitab hadits induk yang mereka anggap paling shahih dengan riwayat mutawâtir, yakni al Kâfi, penjelasan tentang distorsi, penambahan dan pengurangan dalam Al-Qur’an memang sangat banyak.” (Hal:304)

Dalam paragraf yang singkat itu terdapat banyak kesalahan atau bahkan boleh jadi kepalsuan, seperti anggapan bahwa kitab Al Kâfi yang mereka anggap paling shahih dengan riwayat mutawâtir. Di sini saya meminta dengan hormat kepada mereka untuk menunjukkan di mana dapat ditemukan penegasan para ulama Syi’ah yang membenarkaan tuduha tersebut!

Selain itu, bahwa telah terjadi ijmâ’ akan terjadinya tahrîf, di mana dapat ditemukan?! Janganlah kebencian kepada Syi’ah mendorong kalian berkata palsu dan mengada-ngada serta mengucapkan yang tidak kalian ketahui. Allah SWT berfirman:

وَ لا تَقْفُ ما لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَ الْبَصَرَ وَ الْفُؤادَ كُلُّ أُولئِكَ كانَ عَنْهُ مَسْؤُلاً.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isrâ’ [17]:36)

Bersikap jujur dan adil-lah dalam bertindak dan berkata-kata, sebab yang demikian itu aqrabu lit taqwa.

Allah SWT. berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامينَ لِلَّهِ شُهَداءَ بِالْقِسْطِ وَ لا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلى‏ أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوى‏ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعْمَلُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang- orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali- kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mâidah [5]:8 )



Tiga Hadis Al Kâfi Tentang Tahrîf

Setelah itu, mereka menyebutkan tiga hadis riwayat Tsiqatul Islam wal Muslimîn, Syeikh Al Kulaini (rahmatullah ‘alaihi).

Riwayat pertama:

محمد بن يحي عن أحمد بن محمد عن إبن محبوب عن عمرو بن أبي المِقدام عن جابر، قال: سمعت أبا جعفر (ع) يقول: ما ادَّعَى أَحدٌ من الناس أنَّهُ جمع القرآنَ كُلَّهُ كما أُنْزِلَ إِلاَّ كذاب، و ما جمعَهُ و حفِظهُ كما نَزَّله اللهُ تعالى إلاَّ علي بن أبي طالب (ع) و الأَئِمَّةُ من وُلْدِهِ (عليهم السلام).

…. Abu Ja’far (Imam al Baqir) as. berkata, “Tidak seorang pun yang mengaku telah mengumpulkan Al Qur’an sebagaimana yang telah diturunkan, melainakn ia adalah pembohong besar. Dan tidak ada yang mengumpulkan serta menghafalnya sebegaimana diturunkan kecuali Ali ibn Abi Thalib as. dan para imam dari keturunannya.”

Terlepas dari masalah yang terkait dengan sanad riwayat di atas, sebab ‘Amr ibn Abi al Miqdâm masih diperselisihkan para ulama Ahli Ilmu Rijal Syi’ah tentang ketsiqahannya[1]…. Terlepas dari hal itu perlu diketahui bahwa dalam hadis tersebut tidak ada penegasan akan terjadinya pengurangan pada Al Qur’an Al Karîm. Sebab kata جمع disusul dengan kata حفظ hal mana memberikan makna bahwa yang dihafal dan dikumpulkan oleh Imam Ali dan para Imam suci Syi’ah as. adalah ilmu tentang seluruh teks ayat-ayat Al Qur’an beserta ta’wîl, tafsir dan kandungannya baik yan dzahir maupun yang bathin. Dan bukan sekedar menghafal teks ayat-ayat suci Al Qur’an.

Pengertian yang demikian itu gamblang dan tidak samar atas ulama Syi’ah. Selain itu, pemaknaan seperti itu sangat sejalan dengan keyakinan Al Kulaini yang memasukkan hadis di atas dalam bab khusus dengan judul:

إِنَّهُ لم يَجمعِ القرآنَ كلَّهُ إلاَّ الأئمة (ع) و أنهم يعلمون علمَهُ كلَّهُ.

Bahwa tidak adaa yang mengumpulkaan Al Qur’n seluruhnya keculi pra imam dan mereka mengethui seluruh ilmu Al Qur’an.

Dalam bab tersebut Al Kulaini meriwayatkan eman hadis, empat hadis terakhir berbicara tentang ilmu para Imam Ahlulbit as. Tentang apa yang terkandung dalam Al Qur’an. Sedangkan dua hadis pertama adalah yang telah dikutip oleh Tim Penulis Sidogiri.

Pada hadis di atas, terdapat dua masalah yang perlu didiskusikan, pertama, adanya mush-haf milik Imam Ali as. Kedua, bentuk dan hakikat mush-haf tersebut.

Tentang masalah pertama, tidak diragukan bahwa sepeninggal Rasulullah saw. Imam Ali as. telah meluangkan waktu beliau untuk mengumpulkan Al Qur’an. Berita tentangnya telah diterima kebenarannya oleh ulama Ahlusunnah. As Sijistani dalam kitab al Mashâhif-nya meriwayatkan dari Ibnu Sîrîn, ia berkata, “Ketika Rasulullah saw. wafat, Ali bersumpah untuk tidak mengenakan ridâ’ kecuali untuk shalat Jum’at sehingga ia selesai mengumpulkan Al Qur’an dalam sebuah mush-haf.” (Al Mashâhif:16.)

Berita tentangnya juga dapat dibaca dalam berbagai kitab Ahlusunnah seperti al Fahrasat; Ibnu Nadîm, al Itqân; as Suyuthi dll.

Kedua, tentang hakikat mush-haf Imam Ali as. Para ulama menyebutkn bahwa ia ditulis sesuai dengan urutan nuzûl-nya. Di samping disertakan keterangan tantang makna dan ta’wîl nya.

Ibnu Jaziy berkata, “Ketika Rasulullah saw. wafat, Ali ibn Abi Thaalib ra. duduk di rumahnya, ia mengumpulkan Al Qur’an sesuai urutan tnzîlnya. Andaai mush-haaf itu ditemukaan pasti di dalamnya terdapat banyaak ilmu pengetahuan, tetapi saying tidak ditemukan.” (At Tashîl Li ‘Ulûmi at Tanzîl; Imam Muhaammad ibn Ahmad ibn Jazzi al Kalbi,1/4 Muqaddimah ‘Ulâ/mukaddimah pertama).

As Suyuthi mengatakan, “Jumhur ulama berpendapat bahwa tertib urutan surh-surah ditetapkan berdasarkan ijtihad para sahabat. Ibnu Fâris berdalil dengan bahwa di antara para sahabat ada yang menyusun surah-surah Al Qur’an berdasarkan urutan tanzîl/turunnya, yaitu muhs-haaf Ali. Awal mush-hf itu adlh surh Iqra’ kemudian Nûn, kemudian al Muzammil, dan demikin seterusnya hingga aakhir surah-surah Makkiyah kemudian surh-surh Madaniyyah.” (Al Itqân,1/

Hadis kedua yang diriwyatkan al Kulaini dalam bab tersebut dan yang dikutip oleh Tim Sidogiri adalah:

محمد بن الحسين عن محمد بن سنان عن عمار بن مروان عن المُنَخَّل عن أبي جعفر (ع) أنَّه قال: ما يستطيع أحدٌ أن يَدَّعِيَ أنَّ عنده جميع القرآن كله، ظاهره و باطنه غير الأوصياء.

Dari Abu Ja;far as. Ia berkata, “Tidak adaa seoraang yang mengaku memiliki seluruh Al Qur’an, dzahir dan batinnya melainkan paaraa washi (imam).”

Terlepas dari kelemahan pada dua perawinya yang bernamaa Muhammd ibn Sinan dan al Munakhkal., seperti disebutkan paraa pakar Ilmu Rijâl Syi’ah, seperti an Najjâsyi dalam Rijâl-nya, ath Thûsi dalam Fihrasat, Tahdzîb al Ahkâm, ketika menyebut hadis dengan nomer1464 pada juz7/361, Al Istibshâr,3/224 katika menyebut hadis nomer 810, al Kasyi daalam Rijâl-nya, Al Allamah al Hilli daalam Rijâl-nya dll.

Terlepas dari itu semua, penyebutan kalimat: ظاهره و باطنه akan memperjelas makna hadis tersebut, bahwa yang dimiliki para imam dan tidak dimiliki selain mereka adalah ilmu seluruh Al Qur’an baik yang dzahir maupun yang batin. Jadi dalam usaha memahami hadis pertamaa tidak dapat dipisah dari hadis kedua dan juga daari penyebutan nama bab oleh Syeikh al Kulaaini (rahimahullahu).

Dermikianlah para ulama Syi’ah memahami hadis di atas. Baca Hasyiyah atas al Kafi oleh Sayyid ath Thabathaba’i,1/228 dan Syarah ash Shaihfah as Sajjadiyah oleh Sayyid Ali ibn Ma’shum al Madani:401. (semoga perpustakaan Sidogiri telah mengolekssinya).

Selain itu semua, apa yang aneh dari dua hadis di atas?? Andai hadis seperti itu dianggap cukup untuk menuduh Syi’ah meyakini tahrîf Al Qur’an, lalu apa sikap kalian jika ternyata hadis yang senada juga adaa dalam kitab-kitab kalian Ahlusunnh?!

Perhtikan riwayt Ahlusunnah di bawah ini:

Ibnu Umar, ia berkata:

لا يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ : قَدْ أَخَذْتُ القُرْآنَ كُلَّهُ! و ما يُدْرِيْهِ ما كُلُّهُ؟ قَدْ ذَهَبَ مِنْهُ قُرْآنٌ كثِيْرٌ. و لكن لِيَقُلْ قدَ أخَذْتُ مِنْهُ ما ظَهَرَ.

“Jangan sekali-kali seorang dari kalian mengatakan, ‘Aku telah mengambil (menghafal) seluruh Al Qur’an!’ Tahukah dia apa ‘seluruh’ itu!

Telah banyak Al Qur’an yang hilang. Akan tetapi hendaknya ia berkata, ‘Aku mengambil (menghafal) yang tampak saja.’”

(Ad Durr al Mntsûr,1/106 Fadhâil Al Qur’ân; Abu Ubid al Qâsim ibn Sallâm:bab 51 hadis 1, hal.190.)

Adakah kesamaran pada kata-kata Ibnu Umar di atas bahwa “Telah banyak Al Qur’an yang hilang”? dalam menunjukkan adanya tahrîf pada Al Qur’an?!

Atau kalian akan meragukan kesahihan hadis di atas? Mungkinkah itu, sementara para ulama dan ahli hadis Ahlusunnah andaalan kalian telah menshahihkannya.

Perhaatikan sanad riwayat di atas dalam kitab Fadhâil Al Qur’an:

حدثنا إسماعيل بن إبراهيم عن أيوب عن نافع عن إبن عمرقال: … .

Ismail adalah seorang perawi yang hâfidz tsiqah dan wara’. Ayub adalah ibn Abi Tamimah, seorang yang tisqah, adid dan zâhid. Nâfi’ seorang yang tsiqah. Ibnu Umar seorng sahabat (dlm pandngan Ahlusunnah semua sahabat adlah udûl). Jadi hadis di atas berdasarkan kaidah ilmu hadis Ahlusunnah adalah shahih sanadnya! Aadapun maknnya sangat jelas menunjukkan danyaa tahrîf dengn hilangnya banyak Al Qur’an!! Lalu salahkah jika ada yang menuduh Ahlusunnah wal Jama’ah telah meyakini terjadinya tahrîf dengan sadar riwayat shahih di atas?!

(Bersambung)

[1] Lebih jelasnya baca Tanqîh al Maqâl,2/323.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda