artikel, skripsi dan tesis islam

artikel, skripsi dan tesis islam pilihan untuk pencerahan pemikiran keislaman

Rabu, 21 Januari 2009

Menjawab Sidogiri (2)

Menjawab Sidogiri (2)
Ditulis pada Maret 24, 2008 oleh Ibnu Jakfari

Hadis ketiga yang disebutkan Tim Sidogiri adalah riwayat al Kafi:

علي بن الحكم عن هشام بن سالم عن أبي عبد الله (ع) قال: إِنَّ القرآنَ الذي جاء به جبريل (ع) إلى محمد (ص) سبعةَ عشر ألف آية.

“Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril as. kepada (Nabi) Muhammad saw. Adalah 17 ribu ayat.”

Hadis di atas diriwayatkan Syeikh al Kulaini (RH) dalam kitab al Kâfi pada Kitabu Fadhli al Qur’an, Bab an Nawâdir. Para perawi dalam sisilah riwayat di atas adalah tsiqâh seperti dinyatakan para Ahli Ilmu Rijâl Syi’ah. Karenanya sebagian orang menyerang Syi’ah bahwa hadis riwayat al Kâfi yang menunjukkn adanya tahrîf di atas adalah shahih, jadi berarti Syi’ah meyakini adanya tahrîf.

Sementara, seperti diketahui bersama, baik dalam disiplin Ilmu Hadis Ahlusunnah mupun Syi’ah, bahwa bisa jadi sebuah hadis itu shahih dari sisi sanadnya dalam arti para perawinya terpercaya/tsiqât, namun sebenarnya pada matannya terdapat masalah! Sebab keterpercayaan seorang perawi bukan segalanya dalam menentukan stastus sebuah hadis, kita harus membuka asumsi boleh jadi ia lupa, salah dalam menyampikan matan hadis atau… atau….

Selain itu, hadis di atas adalah hadis Âhâd (bukan mutawâtir) yang tidak akan pernah ditemukan baik dalam kitab al Kâfi maupun kitab-kitab hadis Syi’ah lainnya dengan sanad di atas. Di samping itu, perlu dimengerti bahwa al Kulaini (RH) memasukkan hadis di atas dalam bab an Nawâdir, dan seperti disebutkan Syeikh Mufîd bahwa para ulama Syi’ah telah menetapkan bahwa hadis-hadis nawâdir adalah tidak dapat dijadikan pijakan dalam amalan, sebagaimana istilah nadir (bentuk tunggal kata Nawâdir) sama dengan istilah Syâdz. Dan para Imam Syi’ah as. telah memberikan sebuah kaidah dalam menimbang sebuah riwayat yaitu hadis syâdz harus ditinggalkan dan kita harus kembali kepada yang disepakati al Mujma’ ‘Alaih.

Imam Ja’far as. bersabda:

يَنْظُرُ إلَى ما كان مِن رِوَايَتِهِم عَناّ فِي ذلك الذي حَكَمَا بِه الْمُجْمَع عليه مِن أصحابِك فَيُؤْخَذُ بِه من حُكْمِنَا وَ يُتْرَكُ الشَّاذُّ الذي ليْسَ بِمَشْهُوْرٍ عند أصحابِكَ، فإنَّ الْمُجْمَعَ عليه لاَ رَيْبَ فيه.

“Perhatikan apa yang di riwayatkan oleh mereka dari kami yang jadi dasar keputusan mereka. Diantara riwayt-riwayt itu, apa yang disepakati oleh sahabat-sahabatmu, ambillah! Adapun riwayat yang syâdz dan tidak masyhur di antara sahabat-sahabatmu tinggalkanlah! Karena riwayat yang sudah disepakati itu tidak mengandung keraguan….” (HR. al Kâfi, Kitab Fadhli al ‘Ilmi, Bab Ikhtilâf al Hadîts, hadis no. 1o.)

Sementara hadis di atas tidak meraih kemasyhuran dari sisi dijadikannya dasar amalan dan fatwa, tidak juga dari sisi berbilangnya jalur periwayatannya. Ia sebuah riwayat Syâdz Nâdirah dan bertentangan dengan ijmâ’ mazhab seperti yang dinukil dari para tokoh terkemukan Syi’ah di antaranya Syeikh Shadûq, Syeikh Mufîd, Sayyid al Murtadha ‘Almul Hudâ, Syeikh ath Thûsi, Allamah al Hilli, Syeikh ath Thabarsi dll.

Hadis di atas tidak memenuhi syarat-syarat diterimanya sebuah riwayat dan kaidah-kaidah pemilahan antara hadis shahih dan selainnya yang telah ditetapkan Syeikh al Kulaini sendiri dalam al Kâfi.

Ini semua dengan asumsi bahwa penyebutan angka 17 ribu ayat itu telah tetap dalam kitab al Kâfi!



Jumlah 17 Ribu Ayat Belum Pasti Dalam Al Kâfi

Sementara itu terdapat ketidak-pastiaan tentang adanya bilangan angka 17 ribu ayat itu dalam al Kâfi, sebab dalam sebagian manuskrip kuno kitab al Kâfi angka yang disebut dalam riwayat itu adalah 7 ribu bukan 17 ribu! Dengan demikian belum dapat dipastikan angka tersebut dari riwayat al Kâfi! Bisa jadi kesalahan dilakukan oleh penulis sebagian manuskrip kuno kitab al Kâfi!

Sebutan angka 17 ribu ayat telah dinukil dari al Kâfi beberapa ulama Ahlusunnah ketika menyerang Syi’ah. Di antara mereka adalah:

1. Al Alûsi dalam Mukhtshar Tuhfah aal Itsâ ‘Asyriyah: 52.

2. Mandzûr an Nu’mâni dalam ats Tsawrah al Irâniyh Fî Mîzâni al Islâm:198.

3. Muhammad Mâlullah dalam asy Syi’ah wa Tahrîfu al Qur’ân: 63.

4. Dr. Muhmmad al Bandâri dalam at Tasyayyu’ Baina Mafhûmi al Aimmah wa al Mafhûm al Fârisi:95.

5. Dr. Shabir Abdurrahman Tha’imah dalam asy Syi’ah Mu’taqadan wa Madzhaban:103.

6. Ihsân Ilâi Dzahîr dalam asy Syi’ah wa as Sunnah:80 dan asy Syi’ah wa Al Qur’ân:31.

7. Dr. Umar Farîj dalam asy Syi’ah Fî at Tashawwur al Qur’âni:24.

8. Dr. Ahmad Muhammad Jali dalam Dirâsat ‘An al Firaq Fî Târîkh al Muslimîn:228.

Adapun di antara ulama Ahlusunnah yang menyebutkan hadis tersebut dari al Kâfi dengan angkan 7 ribu ayat adalah di antaranya:

1. Musa Jârullah dalam al Wasyî’ah:23.

2. Abdullah Ali al Qashîmi dalam ash Shirâ’ Baina al Islâm wa al Watsaniyah:71.

3. Syeikh Muhammad Abu Zuhrah dalam kitab al Imâm ash Shâdiq: 323.

4. Dr. Ahmad Muhammad Jali dalam Dirâsat ‘An al Firaq Fî Târîkh al Muslimîn: 228.

5. Ihsân Ilâi Dzahîr dalam asy Syi’ah wa Al Qur’ân:31.



Dalam Naskah Kuno al Faidh al Kâsyâni Hanya 7 Ribu Ayat!

Hadis riwayat al Kâfi di atas dalam naskah kuno yang dimiliki dan dijadikan pijakan al Faidh al Kâsyâni dalam penukilan hadis al Kâfi dalam insklopedia hadis berjudul al Wâfi yang beliau karang adalah 7 ribu ayat. Dan beliau tidak menyebut-nyebut adanya riwayat 17 ribu ayat! Hal mana membuktikan kepada kita bahwa naskah asli al Kâfi yang dimiliki al Faidh al Kâsyâni redaksinya adalah 7 ribu ayat bukan 17 ribu!

Lebih lanjut baca kitab Shiyânatu Al Qur’ân; Syeikh Allamah Muhammad Hadi Ma’rifah:223-224.

Jumlah 7 ribu itu disebut tentunya dengan menggenapkan angka pecahan yang biasa dilakukan orang-orang Arab dalam menyebut angka/bilangan ganjil! Demikian diterangkan oleh Allamah asy Sya’râni dalam Ta’lîqah-nya atas kitab al Wâfi.



Andai Shahih Riwayat 17 Ribu Ayat!

Andai redaksi riwayat al Kâfi yang benar adalah 17 ribu ayat, apa yang akan terjadi? Apakah hal itu dengn serta merta membuktikan bahwa mazhab Syi’ah adalah meyakini tahrîf Al Qur’an, seperti yang sering dituduhkan musuh-musuh Syi’ah?!

Apa komentar ulama Syi’ah tentangnya?

Para ulama Syi’ah meyakini bahwa disamping Al Qur’an, Jibril as. juga turun kepada Nabi Muhammad saw. dengan membawa selain Al Qur’an, yang andai ia dikumpulkan bersama Al Qur’an maka akan menjadi sekitar 17 ribu ayat!

Syeikh Shadûq (pimpinan tertinggi Syi’ah di masanya) menegaskan dalam kitab al I’tiqâdât-nya yang beliu tulis khusus menerangkan kayakinan akidah Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah. Beliau berkata:

إعتقادُنا أَنَّ القرآن الذي أنزلَهُ الله على نبينا (صلى الله عليه و آله و سلم) هُو ما بين الدفَّتين، و هو ما بِأَيدي الناس، ليس بِأَكثر من ذلك. و مبلغ سوره عند الناس مائة و أربع عشر سورةو عندنا أنَّ الضحى و ألم نشرح سورة واحدة، و لايلاف و ألم تر كيف سورة واحدة. و من نَسَبَ إلينا أنَّا نقول أنه أكثر من ذلك فهو كاذبٌ….

إنَّهُ قد نزلَ من الوحيِ الذي ليس من القرآن ما لو جُمِع إلى القرآن لكان مبلَغُهُ مِقْدار سبع عشرة ألف آية، و ذلك قول جبريل (ع) للنبي (صلى الله عليه و آله و سلم): إن الله تعالى يقول لك: يا محمد دارِ خلقِي. و مثل قوله: عشْ ما شئتَ فَإِنَّكَِ مَيِّتٌ و أحْبِبْ ما شئتَ فَإِنَّكَِ مفارقُه و اعمل ما شئتَ فَإِنَّكَِ ملآقيه. و شرفُ المؤمن صلاته بالليل….

و مثل هذا كثير، كله وحيٌ و ليس بقرآن، و لو كانقرآنا لكان مقرونا به و موصولا إليه غير مفصولٍ عنه….

“Keyakinan kami bahwa Al Qur’an yang diturunkan Allah kepada nabi-Ny; Muhammad saw. adalah apa yang termuat di antara dua sampul (mush-haf), yaitu yang sekarang beredar di kalangan manusia. Tidak lebih dari itu. Jumlah surahnya adalah 114 surah. Dan menurut kami surah Wa adh Dhuhâ dan Alam Nasyrah dihitung satu surah dan surah Li ilâfi dan Alam Tara Kaifa dihitung satu surah. Dan barang siapa menisbahkan kepada kami bahwa kami meyakini bahwa Al Qur’an lebih dari itu maka ia adalah pembohong! …

Sesungguhnya telah turun wahyu selain Al Qur’an yang jika dikumpulkan bersama Al Qur’an jumlahnya mencapai sekitar 17 ribu ayat. Yaitu seperti ucapan Jibril as. kepada Nabi saw., “Sesungguhnya Allah berfirman kepadamu, ‘Hai Muhammad bergaullah dengan baik kepada hamba-hamba-Ku.’. “Hiduplah sesukamu, kerena engkau pasti akan mati. Cintailah apa yang engkau mau, karena engkau pasti berpisah dengannya. Berbuatlah sekehendakmu karena engkau pasti akan berjumpa dengannya!” Kemuliaan seorang Mukmin adalah shalatnya di waktu malam”…

Dan yang seperti ini banyak sekali. Semuanya adalah wahyu selain Al Qur’an. Andai ia bagian dari Al Qur’an pastilah digandengkan dengannya, bersambung dan tidak terpisah darinya… “. (al I’tiqâdât:93, dicetak dipinggir kitab al Bâb al Hâdi ‘Asyar)

Dengan penafsiran seperti itu para ulama Syi’ah memahami riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa ayat/kalimat ini atau itu demikian diturunkan, maksudnya bahwa ia diturunkan bukan sebagai bagian dari ayat Al Qur’an, seperti akan dijelaskan nanti, insyâ Allah.

Para penulis Wahabi, demikian juga mereka yang terinfeksi “Virus Wahhabisme” seperti adik-adik Tim Penulis Sidogiri yang begitu bersemangat menyerang Syi’ah, boleh jadi tidak sependapat dengan tafsiran ulama dan pembesar Syi’ah di atas. Akan tetapi, yang pasti mereka telah menyaksikan bagaimana ulama Syi’ah tidak berhujjah dengan hadis di atas sebagai bukti adanya tahrîr Al Qur’an!! Lalu apa alasannya mereka memaksakan tuduhan tahrîf melalui riwayat di atas?!



v Riwayat Yang Serupa Ada Di Kitab-kitab Ahlusunnah, Lalu Apa Komentar Mereka?

Menurut Umar ibn al Khaththab Al Qur’an Telah Hilang Dua Pertiganya!

Dalam kitab tafsir ad Durr al Mantsur-nya, Jalaluddin as Suyuthi menyebutkan riwayat Ibnu Mardawaih dari Umar ibn al Khaththab, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

القرْآنُ أَلْفُ أَلْفِ حَرْفٍ وَ سَبْعَةٌ و عِشْرُونَ ألفِ حَرْفٍ، فَمَنْ قَرَأَهُ مُحْتَسِبًا فَلَهُ بِكُلِّ حرفٍ زَوْجَةٌ مِنَ الْحُوْرِ العِينِْ.

“Al Qur’an itu adalah terdiri dari sejuta dua puluh tujuh ribu huruf, barang siapa membacanya dengan niat mengharap pahala maka baginya untuk setiap hurufnya seorang istri dari bidadari.” [1]

Dalam kitab Al Itqân-nya ia kembali menyebutkan riwayat di atas dalam pasal, Naw’ (macam) ke 19: Bilangan surah, ayat, kata-kata dan hurufnya dari riwayat ath Thabarâni, dan setelahnya ia mengomentari dengan mengatakan, “Hadis ini, seluruh perawinya terpercaya, kecuali guru ath Thabarâni; Muhammad ibn Ubaid ibn Adam ibn Abi Iyâs. Adz Dzahabi mempermasalahkannya karena riwayat hadis di atas.”[2] Artinya pada dasarnya ia juga jujur terpercaya, hanya saja dicacat karena ia meriwayatkan hadis di atas. As Sututhi sendiri menerima keshahihan dan kemu’tabaran hadis di atas, terbukti ia mengatakan, “Dan di antara hadis-hadis yang mengi’tibarkan masalah huruf-huruf Al Qur’an adalah apa yang di riwayatkan at Turmudzi (lalu ia menyebutkannya) dan apa yang diriwayatkan ath Thabarâni… .” yaitu hadis di atas.

Hadis riwayat Umar di atas telah diterima para ulama Ahlusunnah, bahkan ada yang menyebutnya ketika menghitung jumlah huruf-huruf Al Qur’an seperti yang dilakukan Doktor Muhammad Salim Muhaisin dalam kitabnya Rihâbul Qur’an al Karîm:132.

Dari riwayat di atas terlihat jelas bahwa Al Qur’an yang beredar di tengah-tengah umat Islam hingga sekarang hanya sekitar sepertiga dari Al Qur’an yang telah diterima oleh Nabi Muhammad saw.! Itu artinya dua pertiga darinya telah musnah!

Az Zarkasyi dalam kitab al Burhân-nya[3] menyebut beberapa hasil penghitungan para pakar Al Qur’an tentang bilangan huruf Al Qur’an, seperti di bawah ini:

1. Dalam penghitungan Abu Bakar Ahmad bin Hasan bin Mihrân: 323015 huruf.

2. Dalam penghitungan Mujahid:321000 huruf.

3. Dalam Penghitungan para ulama atas perintah Hajjaj bin Yusuf:340740 huruf.

Inilah pendapat-pendapat yang disebutkan az Zarkasyi, sengaja saya sebutkan dengan beragam perbedaannya, agar dapat dilihat langsung bahwa jumlah tertinggi yang disebutkan di atas tidak melebihi tiga ratus empat puluh satu ribu huruf. Itu artinya jumlah ayat Al Qur’an yang hilang sebanyak lebih dari 686260 huruf.

As Suyuthi mengakui bahwa Al Qur’an yang ada sekarang kurang dari jumlah itu, yaitu yang pernah diterima Nabi saw. ….

Sepertinya Umar hendak memperkuat apa yang ia riwayatkan dalam hadis di atas. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Umar memerintah agar umat Islam berkumpul, setelah berkumpul ia berpidato, setelah memuji Allah, ia berkata:

أَيُّها الناس! لا يَجْزِعَن مِنْ آيَةِ الرَجْمِ، فَإِنَها أيَةٌ نزلَتْ في كتابِ اللهِ و قَرَأْناها، و لَكِنَّها ذَهَبَتْ في قُرْآنٍ كَثِيْرٍ ذهَبَ معَ محَمَّدٍ.

“Hai sekalian manusia! Jangan ada orang yang sedih atas ayat Rajam. Sesungguhnya ia adalah ayat yang diturunkan dalam Kitab Allah, kami semua membacanya, akan tetapi ia hilang bersama banyak ayat Al Qur’an yang hilang bersama (kematian) Muhammad.”[4]

Jadi menurut Umar bahwa banyak ayat Al Qur’an yang hilang bersama kematian Muhammad (!) dan tidak seorang pun dari pengikutnya yang sempat menghafalnya!

Karenanya sahabat Ibnu Umar seperti dalam hadis yang telah disebutkan sebelumnya, melarang kita mengklaim bahwa kita dapat merangkum seluruh ayat Al Qur’an! Sebab, menurutnya telah banyak yang hilang!

Lalu, jika ada orang yang menuduh Ahlusunnah mayakini telah terjadinya tahrîf Al Qur’an berdasarkan hadis di atas, salahkah dia?

Apa jawaban ulama Wahhabi dan sebagian Ahlusunnah yang terinfeksi “Virus Wahhabisme” yang bisanya hanya “mengorek-ngorek” riwayat-riwayat Syi’ah dengan tanpa pemahaman yang utuh atasnya?

Mengapa mereka menutup-nutupi “borok” dalam kitab-kitab mu’tabarah dan riwayat-riwayat shahihah mereka yang tegas-tegas menunjukkan adanya tahrîf Al Qur’an, dan hanya pandai membodohi kaum awam dengan menyitir, memelintir hadis-hadis dan keterangan ulama Syi’ah?

Sampai kapankah penulis-penulis bayaran Wahhabi dan santri serta Kyai Ahlusunnah yang terinfeksi “Virus Wahhabisme” menjalankan Proyek Pemecah-belahan Umat Islam dengan kepalsuan?!

Mengapakah merekaa tidak pernah jujur dan bersikp obyektif dalam mendiskusikan dan atau membicarakan ajaran Syi’ah?!

Apakah “Kejujuran dan Obyektifits” telah terhapus dari kamus Etika Islami mereka?

Setau saya yang bermental seperti itu hanya kaum Wahhabisme, bukan saudara-saudara kami Ahlusunnah! Lalu mengapakah sekarang mental licik dan sikap picik itu menjangkiti sebagian santri-santri, para Kyai dan “Setengan Kyai” dari saudara-saudara kita dari Ahlusunnah?!

Ya, kami berharap Tim Sidogiri mampu memberikan jawaban ilmiah atasnya, kami yakin Sidogiri dengan tradisi keilmuan yang telah diwarisinya sejak lama akan mampu memberikn jawaban memuskan itu…. Kami akan menantinya dan kami siap mendiskusikannya di sini, insyâ Allah!

(Bersambung)


[1] Ad Durr al Mantsur,6/422.

[2]Al Itqân,2/93, cet. Al Halabi-Mesir.

[3] Al Burhân Fî ‘Ulûmil Qur’ân,1/314-315. cet. Dâr al Kotob al Ilmiah. Lebanon. Thn.1988.

[4] Mushannaf; ash Shan’âni,7/345, hadis no.13329

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda