artikel, skripsi dan tesis islam

artikel, skripsi dan tesis islam pilihan untuk pencerahan pemikiran keislaman

Rabu, 21 Januari 2009

Wahhabi Menggugat Syi’ah (10)

Wahhabi Menggugat Syi’ah (10)
Ditulis pada Nopember 5, 2008 oleh Ibnu Jakfari

Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah.(4)

Sejenak Bermasa Ibnu Taimiyah

Allamah al Hilli –salah seorang tokoh ulama Syi’ah- telah berdalil dengan ayat di atas dan hadis yang terkait dengan turunnya ayat tersebut sebagai dalil imamah Ali as., beliau menulis:

البرهان الثاني: قوله تعالى: (يا أيّها الرسول بلّغ ما أُنزل إليك من ربّك وإنْ لم تفعل فما بلّغت رسالته). اتّفقوا على نزولها في عليّ.

وروى أبو نعيم الحافظ ـ من الجمهور ـ بإسناده عن عطية، قال: نزلت هذه الآية على رسول الله صلى الله عليه [وآله] وسلّم في عليّ بن أبي طالب.

ومن تفسير الثعلبي، قال: معناه: (بلّغ ما أُنزل إليك من ربّك) في فضل عليّ، فلمّا نزلت هذه الآية أخذ رسول الله صلّى الله عليه ]وآله[ وسلّم بيد عليّ، فقال: من كنت مولاه فعليٌّ مولاه... .

Dalil kedua adalah firman Allah SWT.:

يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ.

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al Mâidah [5];67)

Para ulama sepakat bahwa ia turun untuk Ali.

Al Hafidz Abu Nu’aim –seorang ulama Jumhur/Ahlusunnah- meriwayatkan dari Athiyyah, bahwa ia berkata ayat ini turun kepada Rasulullah saw. untuk Ali ibn Abi Thalib.

Dalam tafsir ats Tsa’labi disebutkan, “Maknanya adalah sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu tentang keutamaan Ali. Dan ketika ayat ini turun Rasulullah saw. memegang tangan Ali dan bersabda, ‘Barang siapa yang aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya.’ … “

Menanggapi pembuktian di atas Ibnu Tamiyyah bangkit membantahnya dengan mengatakan:

إنّ هذا أعظم كذباً وفريةً من الاَوّل.

وقوله: اتّفقوا على نزولها في عليّ، أعظم كذباً ممّا قاله في تلك الآية، فلم يقل لا هذا ولا ذاك أحد من العلماء الّذين يدرون ما يقولون.

وأمّا ما يرويه أبو نعيم في الحلية أو في فضائل الخلفاء والنقّاش والثعلبي والواحدي ونحوهم في التفسير، فقد اتّفق أهل المعرفة على أنّ في ما يروونه كثيراً من الكذب الموضوع.
واتّفقوا على أنّ هذا الحديث المذكور الذي رواه الثعلبي في تفسيره هو من الموضوع…
ولكنّ المقصود هنا أنّا نذكر قاعدة فنقول: المنقولات فيها كثير من الصدق وكثير من الكذب، والمرجع في التمييز بين هذا وهذا إلى أهل علم الحديث… فلكلّ علم رجال يعرفون به، والعلماء بالحديث أجلّ هؤلاء قدراً، وأعظمهم صدقاً، وأعلاهم منزلة، وأكثر ديناً، وهم من أعظم الناس صدقاً وأمانةً وعلماً وخبرةً في ما يذكرونه من الجرح والتعديل…

فالاَصل في النقل أن يُرجع فيه إلى أئمّة النقل وعلمائه… ومجرّد عزوه إلى رواية الثعلبي ونحوه ليس دليلاً على صحّته باتّفاق أهل العلم بالنقل؛ لهذا لم يروِه أحد من علماء الحديث في شيء من كتبهم… .

أنتم ادّعيتم أنّكم أثبتّم إمامته بالقرآن، والقرآن ليس في ظاهره ما يدلّ على ذلك أصلاً، فإنّه قال: (بلّغ ما أُنزل إليك من ربّك) وهذا اللفظ عامّ في جميع ما أُنزل إليه من ربّه، لا يدلّ على شيء معيّن… فإن ثبت ذلك بالنقل كان ذلك إثباتاً بالخبر لا بالقرآن…

لكنّ أهل العلم يعلمون بالاضطرار أنّ النبيّ صلّى الله عليه [وآله] وسلّم لم يبلّغ شيئاً في إمامة عليّ… .

“Pernyataan ini lebih besar kebohongan dan kepalsuaanya di banding yang pertama.

Dan ucapannya, mereka/ulama bersepakat tentang turunnya ayat tersebut untuk Ali adalah lebih besar kebohongannya dari apa yang ia ucapkan tentang tafsiran ayat tersebut. Tidak ada seorang ulama pun yang menyadari ucapannya mengatakannya, tidak yang ini dan tidak juga yang itu.

Adapun hadis yang diriwayatkan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah-nya atau dalam kitab Fadhâil-nya atau yang diriwayatkan an Naqqâsy, ats Tsa’labi, al Wahidi dan yang semisalnya dalam kitab-kitab tafsir, maka para ahli ma’rifat (ulama) telah sepakat bahwa apa yang mereka riwayatkan itu banyak sekali yang bohong dan palsu.

Dan para ulama telah sepakat bahwa hadis tersebut di atas yang diriwayatkan ole hats Tsa’labi dalam tafsirnya adalah palsu…

Akan tetapi yang menjadi tujuan di sini ialah kami akan menyebutkan kaidah. Kami berkata, “Riwayat-riwayat yang dinukil itu di dalamnya terdapat banyak yang benar dan banyak pula yang bohong. Rujukan untuk membedakannya yang benar dari yang palsu adalah kembali kepada para ulama ahli ilmu hadis… setiap ilmu itu mempunyai pakar yang mumpuni tentangnya. Para ulama Ahli Hadis lebih mulia kedudukannya, lebih besar kejujurannya, lebih tingi derajatnya, dan lebih benyak keberagamannya. Mereka adalah orang-orang yang paling jujur, paling amanat dan paling mengetahui tentang apa yang mereka sebutkan tentang jarh dan ta’dîl (penelitina kualitas perawi hadis) …

Dalam hal penukilan rujukan utamanya adalah kembali kepada para imam/tokoh dan ulama ahli nukilan/riwayat…. Sekedar menyandarkan sebuah nukilan kepada riwayat ats Tsa’labi atau yang semisalnya bukanlah dalil akan keshahihannya berdasarkan kesepakatan para ulama hadis. Karenanya, hadis tersebut di atas tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari ulama hadis dalam buku-buku mereka sama sekali… .

Kalian (Syi’ah) mengklaim bahwa kalian menegakkan dalil imamah dengan Al Qur’an, sementara Al Qur’an tidak menyebutkannya sama sekali dalam dzahir ayat. Sebab firman: “sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” adalah lafadz yang bersifat umum tentang apa saja yang diturunkan kepada Nabi saw. dari Tuhannya, ia tidak menujukkan sesuatu tertentu secara khusus/spesifik… jika kekhususan itu ditetapkan dengan riwayat, maka itu artinya menetapkan imamah dengan hadis bukan dengan Al Qur’an…

Akan tepapi para ulama mengetahui dengan pasti bahwa Nabi saw. tidak pernah menyabdakan satu hadis pun tentang imamah Ali … “[1]



Ibnu Jakfari berkata:

Adapaun pernyataannya bahwa diantara riwayat-riwayat yang disebutkan Abu Nu’aim dan ats Tsa’labi dalam kitab-kitab mereka itu terdapat riwayat-riwayat palsu… itu benar dan kami pun sepakat dengannya atas pernyataan itu. Sebab tidak ada kitab apapun selain Al Qur’an al karîm yang seluruh isi dan muatannya benar secara absolut, tidak terkecuali kitab-kitab hadis standar yang dikenal dengan nama ash Shahih sekali pun. Bahkan di dalam kitab Shahih Bukhari yang dinomer-satukan Jumhur Ahlusunnah terdapat banyak hadis palsu dan menyimpang. Sebagian ulama dan para peneliti telah memaparkannya dalam banyak karya mereka!

Di antara riwayat-riwayat yang dimuat di dalamnya terdapat yang benar dan shahih sebagaimana terdapat juga yang palsu dan maudhû’. Dan rujukan untuk mengetahui dan membedakan serta memilah antara yang shahih dan yang maudhû’ adalah para pakar dan peneliti dari kalangan ulama Ahli Hadis!

Karenanya, dalam menetapkan keshahihan hadis-hadis yang dikemukakan sebagai dalil imamah, kami berujuk kepada penelitian para ulama Ahli Hadis, termasuk ketika kami membuktikan keshahihan hadis tentang turunnya ayat al Tablîgh/ al Balâgh. Dan jika telah terbukti sebuah hadis itu shahih berdasarkan bukti-bukti dan penelitian seksama, maka bagi semua berkewajiban menerimanya, dan barang siapa menolaknnya dan atau membohongkannya maka sebenarnya ia sedang membohongkan Rasulullah saw. dan barang siapa membohongkan kebenaran yang disampaikan Rasulullah saw. maka ia kafir, menentang Allah dan Rasul-Nya!! Semoga kita dilindungi darinya.

Maka atas dasar itu, argumentasi yang dikemukan seputar ayat di atas tidak sekedar menyandarkan hadis itu kepada riwayat Ats Tsa’labi atau Abu Nu’aim. Akan tetapi semu itu setelah terbutki dengan hasil penelitian bahwa hadis/riwayat itu benar-benar shahih berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku di kalangan para ulama Ahli Hadis.

Adapun tuduhannya bahwa dengan cara seperti itu, argumentasi yang ditegakkan sebanarnya berdasarkan hadis dan bukan berdasarkan Al Qur’an… maka itu hanya sekedar ta’ashsuhb/fatanik buta yang memalukan. Sebab Ibnu Taimiyyah sendiri telah melakukan hal serupa ketika ia berdalil dengan ayat:

إِذْ هُما فِي الْغارِ إِذْ يَقُولُ لِصاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنا

“ … sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya:” Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At Taubah [9];40)

untuk menetapkan keutamaan bagi Abu Bakar.

Ia berkata:

إنّ الفضيلة في الغار ظاهرة بنصّ القرآن، لقوله تعالى: (إِذْ هُما فِي الْغارِ إِذْ يَقُولُ لِصاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنا )… وقد أخرجا في الصحيحين من حديث أنس عن أبي بكر… .

“Sesungguhnya keutamaan (Abu Bakar ) dalam gua adalah tampak jelas berdasarkan nash Al Qur’an, berdasar firman-Nya:

إِذْ هُما فِي الْغارِ إِذْ يَقُولُ لِصاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنا

“ … sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya:” Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At Taubah [9];40)… Bukhari dan muslim telah meriwayatkan dalam kedua kitab Shahihnya sebuah hadis dari Anas dari Abu Bakar…. “[2]

Di sini Ibnu Taimiyyah menjadikan hadis itu sebagai penafsir ayat tersebut dan ia menetapkan keutamaan bagi Abu Bakar dalam ayat tersebut… padahal ayat di atas tidak menyebut sama sekali nama Abu Bakar!

Contoh lain ialah Ibnu Taimiyyah mengaku bahwa ayat 17-18 surah al Lail [92]:

وَ سَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى* الَّذي يُؤْتي‏ مالَهُ يَتَزَكَّى.

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu * Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.”

turun untuk keutamaan Abu Bakar, lalu ia menetapkan keutamaan dari ayat tersebut untuk Abu Bakar! Sementara ayat tersebut sama sekali tidak menyebut-nyebut Abu Bakar! Hanya saja ada riwayat-riwayat tertentu yang mengaitkannya dengan Abu Bakar!”

Dan yang mengelikan di sini ialah bahwa Ibnu Taimiyyah dalam menafsirkan ayat tersebut sebagai keutamaan Abu Bakar mengandalkan riwayat ats Tsa’labi –yang ketika membawakan riwayat keutamaan Imam Ali as. ia lecehkan dan ia ragukan kualitas karyanya!-

Ibnu Taimiyyah berkata:

وقد ذكر غير واحدٍ من أهل العلم أنّها نزلت في قصّة أبي بكر. وكذلك ذكره ابن أبي حاتم والثعلبي أنّها نزلت في أبي بكر عن عبـدالله بن المسيّب. وذكر ابن أبي حاتم في تفسيره: حدّثنا أبي، حدّثنا محمّـد بن أبي عمـر العـدني، حدّثنا سفيان، حـدّثنا هشام بن عروة، عن أبيه، قال: أعتق أبو بكر سبعة كلّهم يعذّب في الله… قال: وفيه نزلت (وسيجنّبها الاَتقى) إلى آخر السورة.

“Banyak ahli ilmu (ulama) menyebutkan bahwa ayat tersebut turun tentang kisah Abu Bakar. Demikian juga Ibnu Abi Hatim dan ats Tsa’labi meriwayatkan bahwa bahwa ia turun untuk Abu Bakar dan Abdullah ibn al Musayyib. Ibnu Abu Hatim menyebutkan dalam fatsirnya: Ayahku mengabarkan kepadaku, ia berkata, Muhammad ibn Abi Umar al ‘Adani mengabarkan kepaka kami, ia berkata Sufyan mengabarkan kepaka kami, ia berkata, Hisyam ibnu Urwah mengabarkan kepaka kami dari ayahnya ia berkata, “Abu Bakar memerdekakakn enam orang budak sahaya yang telah disiksa di jalan Allah… ia berkata, “Untuknyalah ayat tersebut turun:

وَ سَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى* ….

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu…. (hingga akhir surah).”[3]

Serta masih banyak lagi keanehan Ibnu Taimiyyah seperti di atas…

Akan tetapi ketika para pecinta Imam Ali as. berdadli dengan ayat:

يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ.

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al Mâidah [5];67)

sebagai bukti imamah Imam Ali as. dengan mantuan hadis-hadis shshih yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim, ats Tsa’labi dan lainnya dari kalangan ahli hadis dan para mufassir Ahluusnnah, maka Ibnu Taimiyyah menjulurkan lisan beracunya dan berkata:

فمن ادّعى أنّ القرآن يدلّ على أنّ إمامة عليّ ممّا أُمر بتبليغه فقد افترى على القرآن.

”Maka barang siapa mengaku bahwa Al Qur’an telah menunjukkan imamah Ali dari apa yang diperintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikannya, maka ia ia benar-benar telah membuat kepalsuan atas mana Al Qur’an.”[4]

Selain itu berdalil dengan hadis-hadis riwayat ulama dan para muhaddis Ahlusunnah yang dilakukan oleh para ulama Syi’ah adalah sesuai dengan etika berdialoq sehat, sebab para ulama Ahlusunnah telah mengikat diri mereka menerima hadis-hadis riwayat ulama mereka sendiri. Hal itu sangat berbeda dengan apa yang dilakukan ulama Ahlusunnah -termasuk Ibnu Taimiyyah- ketika mereka berdalil dengan riwayat-riwayat mereka sendiri untuk melawan mazhab Syi’ah! Hal seperti itu jelas menyalahi etika berdialoq, sebab hadis-hadis riwayat Ahlusunnah tidak mengikat Syi’ah! Ia tidak dapat dijadikan hujjah untuk melemahkan mazhab Syi’ah! Walaupun hadis yang sedang mereka ajukan sebagai dalil itu telah diriwayatkan Bukhari dan Muslim sekalipun!

Jadi perhatikan, siapa sebenarnya yang sedang berbohong dan mengada-ngada atas nama Allah dan rasul-Nya?! Atas nama Al Qur’an al Karîm?!

Ibnu Taimiyyah atau Allamah al Hillai –rahimahullah- dan para ulama Syi’ah?

(Bersambung)

[1] Minhâj as Sunnah,7/33.

[2] Ibid.8/373.

[3] Ibid,8/495.

[4] Ibid.7/47.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda