artikel, skripsi dan tesis islam

artikel, skripsi dan tesis islam pilihan untuk pencerahan pemikiran keislaman

Rabu, 21 Januari 2009

Wahhabi Menggugat Syi’ah (3)

Wahhabi Menggugat Syi’ah (3)
Ditulis pada Mei 28, 2008 oleh Ibnu Jakfari

Penunjukan Ali Sebagai Khalifah!

Syeikh berkata:

وليس في قوله : من كنت مولاه ، أن النص على خلافته متصله ، ولو كان نصاً لادّعاها علي رضي الله عنه لأنه أعلم بالمراد، ودعوى إدّعائها باطل ضرورة ، ودعوى علمه يكون نصاً على خلافته وترك إدعائها تقية أبطل من أن يبطل .

وما أقبح ملة قوم يرمون إمامهم بالجُبن والخور والضعف في الدين مع أنه أشجع الناس وأقواهم.

“Dan pada sabda: من كنت مولاه bukanlah nash/penunjukan atas khilafah secara bersambung, jika demikian pastilah Ali mengakunya, sebab ia lebih mengerti maksudnya. Dan mengklaim bahwa Ali mengakunya adalah batil/palsu secara pasti, dan mengklaim bahwa Ali mengetahuinya tetepi ia meninggalkan mengakunya kerena taqiyyah lebih batil untuk dibantah.

Alangkah jelaknya agama kaum yang menuduh imam mereka pengecut dan takut serta lemah dalam menegakan agama, padahal ia termasuk paling berani dan paling kuatnya orang … “

Tanggapan Kami:

Tidak diragukan lagi bahwa apa yang dikatakan Syeikh adalah tidak berdasar kepada realita, sebab siapapun yang rajin menelaah Sunnah Nabi dalam kitab-kitab Ahlulannah pasti mengathui dengan pasti bahwa banyak hadis shahih yang dapat menguatkan pendapat Syi’ah Imamiyah tentang adanya penunjukan Ali as. sebagai Khalifah sepeninggal beliau.

Dan untuk menyederhanakan pembahasan saya hanya akan membatasi penyajian bukti-bukti tekstual itu hanya pada hadis Ghadir Khum saja.

Riwayat Hadis Ghadir dalam Kitab-kitab Ahlusunnah

Sebelum membuktikan hak imamah Ali as. dalam hadis Ghadir, perlu kiranya kita memerhatikan beberapa riwayat hadis tersebut sebagaimana diriwayatkan dan dishahihkan ulama Ahlusunnah dalam kitab-kitab mereka.

Dalam kesempatan ini saya hanya akan menyebutkan beberapa saja darinya….

* Riwayat ath Thabarâni:

Ath Thabarâni dan para muhaddis lain meriwayatkan dengan sanad yang disepakati kashahihannya[1] dari sahabat Zaid ibn Arqam, ia berkata:

خطب رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم ، بغدير خمّ ، تحت شجرات ، فقال : أيّها الناس ! يوشك أن أُدعى فأُجيب ، وإنّي مسؤول ، قالوا : نشهد أنّك قد بلّغت وجاهدت ونصحت ، فجزاك الله خيراً . فقال : أليس تشهدون أن لا إله إلاّ الله ، وأنّ محمّداً عبده ورسوله ، وأنّ جنّته حقّ ، وأنّ ناره حقّ ، وأنّ الموت حقّ ، وأنّ البعث حقّ بعد الموت ، وأنّ الساعة آتية لا ريب فيها ، وأنّ الله يبعث مَن في القبور ؟ ! قالوا : بلى نشهد بذلك. قال : اللّهمّ اشهد .

“Rasulullah saw. berpidato di Ghadir Khum di bawah pepohonan, beliau bersabda:

“Hai sekalian manusia, telah dekat waktu untuk aku dipanggil, dan aku akan memenuhinya[2]. Aku akan dimintai pertanggung jawaban, dan kalian pun akan dimintai pertangan jawab[3], lalu apa yang akan kalian katakana?” Mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan pesan, berjuang dan tulus dalam menasehati, semoga Allah membalas engkau dengan kebaikan.’

Belaiu melanjutkan, “Bukankah kalian bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah?! Dan sesungguhnya surga itu haq?! Dan sesungguhnya neraka itu haq?! Kematian itu haq?! Dan kebangkitan setelah kematian itu haq?! Dan kedatangan hari kiamat itu adalah pasti, tiada keraguan di dalamnya dan Allah akan membangkitkan orang yang ada dalam kuburan?!”

Mereka berkata, “Benar! Kami berkasi atas itu!”[4]

Nabi saw. menyambung, “Ya Allah saksikan!”

Kemudian beliau bersabda:

يا أيّها الناس ! إنّ الله مولاي ، وأنا مولى المؤمنين ، وأنا أوْلى بهم من أنفسهم ، فمَن كنت مولاه ، فهذا مولاه ـ يعني عليّاً ـ اللّهمّ والِ مَن والاه ، وعادِ مَن عاداه .

“Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah adalah maulaku dan aku adalah maula-nya kaum Mukminin. Aku lebih berhak terhaap mereka lebih dari diri mereka sendiri![5] Maka barang siapa aku maula-nya ali adalah maula-nya juga. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadilakan Ali maula-nya dan musuhi yang memusuhinya.”

Kemdian beliau bersabda:

يا أيّها الناس ! إنّي فرطكم ، وإنّكم واردون علَيّ الحوض ، حوض أعرض ممّا بين بصرى إلى صنعاء ، فيه عدد النجوم قدحان من فضّة ، وإنّي سائلكم حين تردون علَيّ عن الثقلين ، كيف تخلفوني فيهما ؟ الثقل الأكبر : كتاب الله عزّ وجلّ ، سبب طرفه بيد الله تعالى ، وطرفه بأيديكم ، فاستمسكوا به لا تضلّوا ولا تبدّلوا ، وعترتي أهل بيتي ، فإنّه قد نبّأني اللطيف الخبير أنّهما لن ينقضيا حتّى يردا علَيّ الحوض

“Wahai sekalian manusia, aku akan mendahului kalian, dan kalian akan dating menjumpaiku di haudh, sebuah haudh yang lebih lebar dari kota Bushrâ hingga kota Shan’â’. Di dalamnya terdapat cawan-cawan perak sejumlah bintang di langit; Aku akan menanyai kalian ketika kalian menjumpaiku tentang dua pusaka, bagaimana perlakuakn kalian terhadapnya? Pusaka terbesar adalah Al Qur’an: Kitabullah –Azza wa Jalla-, sebuah sebab yang satu ujungnya di tangan Allah –Ta’alâ- dan satu ujungnya lainnya di tangan-tangan kalian. Maka berpegang teguhlah kepadanya, jangan menyimpang dan jangan merubah-rubah! Dan (pusaka kedua) itrah-ku yaitu Ahlulbaitku. Sesungguhnya Allah telah mengabarkan kepadaku bahwa keduanya tidak akan berakhir hingga menjumpaiku di haudh kelak.”

Ini adalah redaksi hadis riwayat ath Thabarâni, Ibnu Jarir, al hakîm at Turmudzi dari Zaid ibn Arqam. Ibnu Hajar al Haitami telah menukilnya dalam kitab ash Shawâiq:25 dari ath Thabarâni dan lainnya dan ia menshahihkannya.

o Riwayat Al Hakim

Al Hafidz al Hakim dalam al Mustadrak-nya3/109 pada bab Manâqib Ali as. meriwayatkan dari Zaid ibn Arqam dari dua jalur yang ia shahihkna berdasarkan syarat Syaikhain (Bukhari&Muslim), ia berkata:

لمّا رجع رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم ، من حجّة الوداع ونزل غدير خمّ ، أمر بدوحات فقممن ، فقال.

“Ketika Rasulullah saw. pulang dari haji Wadâ’ dan berhenti di Ghadir Khum, beliau memerintahkan agar beberapaa pohon itu disapu sekelilingnya, setelahnya beliau bersabda:

كأنّي دعيت فأجبت ، وإنّي قد تركت فيكم الثقلين ، أحدهما أكبر من الآخر ، كتاب الله تعالى وعترتي ، فانظروا كيف تخلفوني فيهما ، فإنّهما لن يفترقا حتّى يردا عليّ الحوض .

“Seakan-akan aku telah dipanggil dan aku memenuhinya. Dan aku telah tinggalkan di tengah-tengah kalian dua pusaka berharga, yang satu lebih besar dari yang lainnya; Kitabullah –Ta’alâ- dan Itrahku. Maka perhatikan bagaimana kalian memperlakukan keduanya sepeningglaku. Karena Sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di haudh/telaga.”

Kemudian beliau melanjutkan:

ثمّ قال : إنّ الله عزّ وجلّ مولاي ، وأنا مولى كلّ مؤمن ، ثم أخذ بيد عليّ ، فقال : مَن كنت مولاه فهذا وليّه ، اللّهمّ وال مَن والاه ، وعاد مَن عاداه….

“Sesungguhnya Allah –Azza wa Jalla- adalah maulaku dan aku adalah maula setiap Mukmin.”

Kemudian beliau mengangkat tangan Ali dan bersabda, “Maka barang siapa yang aku adalah maulanya maka Ali adalah maulanya juga. Ya Allah, bimbinglah yang menjadikan Ali sebagai maulanya dan musuhi yang memusuhinya.”

Adz Dzahabi dalam Talkhish Mustadraknya tidak menentang penshahihan al Hakim dengan kata-kata apapun.

Dan Al Hakim juga meriwayatkan dalam Bab Dzikru Zaid ibn Arqam,3/533 dan ia menegaskan keshahihannya. Dan adz Dzahabi, kendati ia sangat ketat dalam menshahihkan hadis-hadis keutamaan Ahlulbait as. juga menyetujuinya.

o Riwayat Imam Ahmad

Imam Ahmad ibn Hanbal meriwayatkan dalam Musnad-nya,4/372 dari hadis riwayat Zaid ibn Arqam, ia berkata:

نزلنا مع رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم بواد ، يقال له : وادي خمّ ، فأمر بالصلاة فصلاّها بهجير ، قال : فخطبنا ، وظلّل لرسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم بثوب على شجرة سمرة من الشمس ، فقال : ألستم تعلمون ، أولستم تشهدون أنّي أوْلى بكلّ مؤمن من نفسه ؟ ! قالوا : بلى . قال : فمَن كنت مولاه ، فعليّ مولاه ، اللهم وال من والاه ، وعاد من عاداه .

“Kami bersma Rasulullah saw. berhenti di sebuah lembah yang dinamai Khum, lalu beliau memerintah agar kami berkumpul untuk shalat. Beliau meminpin shalat di sata panas, kemudian beliau berpidato. Rasulullah saw. dinaungi dari sengatan panas matahari dengan kain (yang dihamparkan di ataas pepohonan). Beliau bersabda, “Apakah kalian mengetahui atau: Apakah kalian bersaksi bahwa aku berhak atas diri setiap mukmin lebih darinya sendiri?! Mereka berkata, “Benar.” Beliau bersabda (menanjutkan), “Barang siapa yang aku maula-nya maka Ali juga maula-nya. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali maula-nya dan musuhim orang yang memusuhinya.”

o Riwayat Imam an Nasa’i

Imam An Nasa’i juga meriwayatkan dalam Khushâish-nya hadis no. 74 pada bab Dzikru Qauli an Nabi man Kuntu Maulâhu fa Hadzâ Maulâhu, dari Zaid ibn Arqam, ia berkata;

لمّا دفع النبيّ من حجّة الوداع ونزل غدير خمّ ، أمر بدوحات فقممن ، ثمّ قال : كأنّي دعيت فأجبت ، وإنّي تارك فيكم الثقلين ، أحدهما أكبر من الآخر ، كتاب الله وعترتي أهل بيتي ، فانظروا كيف تخلفوني فيهما ، فإنّهما لن يفترقا حتّى يردا عليّ الحوض .. ثمّ قال : إنّ الله مولاي ، وأنا وليّ كلّ مؤمن ، ثمّ إنّه أخذ بيد عليّ ، فقال : مَن كنت وليّه فهذا وليّه ، اللّهم وال مَن والاه ، وعاد مَن عاداه .

قال أبو الطفيل : فقلت لزيد : سمعته من رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم؟ ! فقال : وإنّه ما كان في الدوحات أحد إلاّ رآه بعينيه وسمعه بأُذنيه .

“Ketika Nabi saw. pulang dari haji Wadâ’, beliau berhenti di Ghadir Khum, lalu memerintahkan agar beberapa pohon itu dibersihkan sekitarnya, kemudian beliau bersabda, “Sepertinya aku telah dipanggil dan aku memenuhinya, dan aku tinggalkan pada kalian dua pusaka berharga, yang satu lebih besar dari yang lainnya; Kitabullah dan Itrahku yaitu Ahlulbaitku. Maka perhatikan bagaimana perlakuakn kalian terhadap keduanya sepeninggalku. Kerena Sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menjumpaiku di haudh.”

Kemudian beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah adalah maulaku dan aku adalah walinya setiap Mukmin.”

Lalu mengangkat tangan Ali ra. Dan bersabda, “Barang siapa yang aku walinya maka dia ini walinya. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali wali-nya dan musuhim orang yang memusuhinya.”

Abu Thufail berkata, “Lalu aku berkata kepada Zaid, ‘Apakah engkau mendengar sendiri dari Rasulullah saw.?’” Zaid menjawab, ‘Ya, tiada seorang pu di dekat pohon itu melainkan menyaksikan beliau dan mendengar sabdanya.”[6]

Dalam riwayat lain, Imam Ahmad dalam Musnad-nya4/370 dan an Nasa’i dalam Khashâish-nya, hadis no.88 dengan sanad shahih, dari Abu Thufail:

جمع عليّ الناس في الرحبة ثمّ قال لهم : أُنشد الله كلّ امرئ مسلم سمع رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم يقول يوم غدير خمّ ما سمع لما قام . فقام ثلاثون من الناس .. (قال :) وقال أبو نعيم : فقام ناس كثير ، فشهدوا حين أخذه بيده ، فقال للناس : أتعلمون أنّي أوْلى بالمؤمنين من أنفسهم ؟ !

قالوا : نعم يا رسول الله .

قال : مَن كنت مولاه فهذا مولاه ، اللّهمّ والِ مَن والاه ، وعادِ مَن عاداه .

قال أبو الطفيل : فخرجت وكأنّ في نفسي شيئاً، فلقيت زيد بن أرقم ، فقلت له : إنّي سمعت عليّاً يقول : كذا وكذا . قال زيد : فما تنكر ؟ ! قد سمعت رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم يقول ذلك له.

“Ali mengumpulkan orang-orang di Rahbah, lalu berkata meminta, “Aku meninta dengan nama Allah agar setiap orang yang pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda di Ghadir Khum: “Tidakkah kalian mengetahui bahwa aku berhak atas kaum Mukminin lebih dari diri mereka sendeiri (ketika itu beliau sambil berdiri, lalu mengangkat tangan Ali dan bersabda): “Barang siapa yang aku maula-nya maka Ali juga maula-nya. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali wali-nya dan musuhim orang yang memusuhinya.” Untuk bangu dan memberikan kesaksian!

Abu Thufai berkata, Lalu ketika aku keluar di dalam hatiku ada sesuatun tentang hal itu, kemudian aku menjumpai Zaid ibn Arqam dan kutanykan hal itu, aku berkata kepadanya, “Aku mendengar Ali berkata begini dan begitu.” Zaid berkata, “Apa yang engkau ingkari?!” [7]Aku benar-benar telah mendengarnya dari Rasulullah saw.

Dalam kesempatan lain Imam Ahmad juga meriwayatkan dari hadis riwayat al Barâ’ ibn ‘Âzib dari dua jalur, ia berkata:

كنّا مع رسول الله ، فنزلنا بغدير خمّ ، فنودي فينا : الصلاة جامعة ، وكُسح لرسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم تحت شجرتين ، فصلّى الظهر وأخذ بيد عليّ ، فقال : ألستم تعلمون أنّي أوْلى بالمؤمنين من أنفسهم ؟ ! قالوا : بلى . قال : ألستم تعلمون أنّي أوْلى بكلّ مؤمن من نفسه ؟ ! قالوا : بلى . قال : فأخذ بيد عليّ ، فقال : مَن كنت مولاه فعليّ مولاه ، اللّهمّ وال مَن والاه ، وعاد مَن عاداه ..

“Kami bersama Rasulullah saw., lalu kami berhenti di Ghadir Khum, lalu diumumkan agar berkumpul, kemudian disapulah halaaman di sekitar dua pohon di sana, lalu beliau shalat dzuhur dan (setelahnya) beliau mengangkat tangan Ali dan bersabda, “Tidakkah kalian tahukah bahwa aku ini berhak atas kaum Mukminin lebih dari diri mereka sendiri?!” Mereka menjawab, “Benar.” Beliau melanjutkan, “Tahukah kalian bahwa ku berhak atas setiap Mukmin lebih dari dirinya sendiri?!” Mereka menjawab, “Benar.” Barâ’ berkata, “Lalu beliau mengangkat tangan Ali dan bersabda, “Barang siapa yang aku maula-nya maka Ali juga maula-nya. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali maula-nya dan musuhim orang yang memusuhinya.”

Barâ’ berkata (lagi):

قال : فلقيه عمر بعد ذلك ، فقال له : هنيئاً يا ابن أبي طالب ، أصبحت وأمسيت مولى كلّ مؤمن ومؤمنة .

“Lalu setelahnya Umar menemui Ali dan berkata kepadanya, “selamat atasmu wahai putra Abu Thalib, engkau sekarang telah menjadi maula setiap mukimn dan mukminah.” (Musnad,4/281)

Imam an Nasa’i juga meriwayatkan dalam Khashâishnya, hadis no.89 dari Aisyah bintu Sa’ad dan ‘Âmir ibn Sa’ad, berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda padaa hari Juhfah, beliau mengangkat tangan Ali dan berpidato, beliau mengucapkaan tahmid daan memuji Allah, kemudian bersabda:

أيّها الناس ! إنّي وليّكم ، قالوا : صدقت يا رسول الله .

“Wahai sekalian manusia, bukankah aku wali kalian! Mereka menjawab, “Benar.”

Lalu beliau mengangkat tangan Ali dan bersabda:

هذا وليّي ، ويؤدّي عنّي دَيني ، وأنا موالٍ من والاه ، ومعادٍ من عاداه ..

“Orang ini adalah waliku, yang akan melunasi hutangku. Dan aku bermuwalah kepada orang yang menjadikannya maula dan memusuhi yang memsuhinya.”

Selain riwayat-riwayat di atas, masih sangat banyak riwayat lainnya. Dan seperti dapat disaksikan bahwa ia sangat jelas dan tegas menetapkan hak kewalian ali atas kaum Mukminin!

[1] Para ulama telah menegaskan keshahihan hadis di atas, sampai-sampai Ibnu hajar al Haitami mengakuinya ketika ia menyebutkan hadis di atas dari riwayat ath Thabarani dan lainnya di tengah-tengah ia menyebtukan bantahan atas syubhat kesebalas pada pasal V bab I dalam kitab Shawaiq-nya:25.

[2] Dengan menyebut hal ini beliau saw. sepertinya ingin menyadarkan bahwa waktu untuk menyampaikan pesan penting ini benar-benar telah mendesak sehingga apabila ditunda-tunda lagi, mungkin akan terlewatkan dengan datangnya ajal beliau.

[3] Tanggung jawab itu sangat berat, dan penunjukan Ali as. Sebagai pengganti beliau dalam posisi sebagai pemimpin tertinggi umat Islam adalah berat untuk diterima oleh banyak kalangan yang punya minta untuk bersaing, memendam rasa dengki, kebencian dan kemunafikan. Karenanya sebelum menyamiakannya beliau saw. Menyampaikan terlebih dahulu permintaan uzur kepada mereka bahwa ini adalah tugas ilahi yang harus beliau sampaikan, agar mereka tidak terseret jauh menuruti hawa nafsu mereka sehingga akan celaka! Oleh sebab itu sabda ini beliau sampaikan: “Aku akan dimintai pertanggung jawaban, dan kalian pun akan dimintai pertangan jawab.”

[4] Bisa jadi sabda di atas menunjuk kepada hadis yang diriwayatkan para muhaddis, seperti ad Dailami dan lainnyan (seperti disebutkan dalam kitab as Shawâiq dan lainnya) dari sahabat Abu Sa’id al Khudri, ia berkata tentang ayat:

و قفُوهُم إنَّهُم مَسؤولونَ {عن ولاية عليٍ}

“Hentikan mereka karena mereka akan ditanyai/dimintai pertanggugan jawab.”

Nabi saw. bersabda tentang ayat itu bahwa mereka akan dimintai pertanggung jawaban tentang sikap mereka terhadap wilayah/kepemimpinan Ali.

[5] Ini adalah bukti kuat bahwa yang dimaksud dengan kata maulâ dalam hadis tersebut adalah aula/yang lebih berhak, seperti nanti akan saya buktikan!

[6] Komentator kitab Khashâish –terbitan dâr al Bâz, Mekkah -Saudi Arabiah- Syeikh Abu Ishaq al Huwaini al Atsari menegaskan keshahihannya, dengan catatan jika ia selamat dari pentadlisan Habib Abi Tsabit. (Khashâish:72)

[7] Pertanyaan Abu Thufail itu juga sebuah bukti kuat bahwa hadis Ghadir bukan dalam rangka menetapkan kewajiban umat untuk mencintai Ali as., seperti yang hendak difahami Ahlusunnah, sebab tidak ada yang perlu dipertanyakan apalagi diingkari jika sabda itu untuk makna perintah kecintaan. Hal yang mengganjal pikiran Abu Thufail adalah tentang kepemimpinan Imam Ali as., karenanya ia menjadi terheran, walau telah disabdakan Nabi saw. mengapa Ali disingkrikan!

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda