artikel, skripsi dan tesis islam

artikel, skripsi dan tesis islam pilihan untuk pencerahan pemikiran keislaman

Rabu, 21 Januari 2009

Wahhabi Menggugat Syi’ah (6)

Wahhabi Menggugat Syi’ah (6)
Ditulis pada Juni 5, 2008 oleh Ibnu Jakfari

Apakah Penyebutan Kata Cinta dan Benci Mempengaruhi Pemaknaan Hadis Ghadir Untk Arti Imamah?

Dalam anggapan sebagian orang, khususnya sebagian penulis Wahhabi bahwa penyebutan kalimat akhir dalam hadis Ghadir: اللّهم والِ من والاه وعادِ من عاداه… adalah kendala serius dalam memaknai hadis Ghadir dengan arti imamah/kepemimpinan tertinggi Ali as. atas umat Islam sepeninggal Nabi saw.

Dalam anggapan mereka, dengan menyebutkan kalimat terakhir tersebut, makna hadis Ghadir tersebut adalah demikian: “Barang siapa yang aku mencitainya/atau yang mencintaiku maka Ali juga mencintainya/dia harus mencintai Ali. Ya Allah cintailah yang mencintai Ali dan musuhi yang memusihinya!”

Penyebutan do’a terakhir inilah yang menghalangi kita memaknai maulâ/aulâ dalam sabda Nabi tersebut dengan yang lebih berhak memimpin!

Ibnu Jakfari berkata:

Pertama: Keberatan ini dengan dasar adanya do’a dalam hadis di atas yang dikemukakan sebagian penulis Wahhabi (yang notabane) pengikut dan muqallid buta Ibnu Taimiyah) adalah sangat aneh. Sebab Ibnu Taimiyah sendiri menolak adanya tambahan tersebut dalam hadis Ghadir, dan menganggapnya palsu! Lalu bagaiaman sekarang pengikutnya yang masih bersandar kepada penyimpangannya dalam menelaah hadis Ghadir menjadikan tambahan palsu itu sebagai dalil dan hujjah?!

Ibnu Taimiyah berkata menjawab Allamah al Hilla (tokoh Syi’ah penulis kitab Minhâj al Karâmah)

الوجه الخامس : إنّ هذا اللفظ ـ وهو قوله : « اللّهمّ والِ من والاه وعادِ من عاداه ، وانصر من نصره واخذل من خذله » ـ كذبٌ باتّفاق أهل المعرفة بالحديث… »

“Jawab kelima: Lafadz ini (yaitu: اللّهمّ والِ من والاه وعادِ من عاداه ، وانصر من نصره واخذل من خذله) adalah kebohongan/kidzbun berdasarkan kesepakatan ulama hadis… “

Akan tetapi, seperti telah dibuktikan para ulama dan para peneliti bahwa tambahan tersebut telah diriwayatkan para ulama dan ahli hadis dengan sanad yang dapat dipertanggung jawabkan keshahihannya.

Lebih lanjut baca:

1) Musnad Ahmad,1/118, 4/368,370 dan 372.

2) Al Mushannaf; Abdurrazzâq,2/67 dan 78.

3) Al Khashâish; an Nasa’I;100.

4) Sunan Ibnu Mâjah,1/43.

5) Tarikh Ibnu Katsir,7/347.

6) Kanz al Ummâl,13/168.

7) Musykil al Âtsâr, 2/308.

8) Al Mustadrak,3/116.

9) Dll

Dari sini dapat diketahui siapa yang sedang berbual dan berbohong dalam menisbatkan kepalsuan itu kapada ahli hadis?!

Kedua: Dalam sebagian redaksi do’a dalam hadis Ghadir tersebut terdapat redaksi: « والِ من والاه… » dan « أحب من أحبّه… » disebutkan secara bersama! Dan ini bukti bahwa makna kalimat: والِ من والاه bukan cintailah orang yang mencintainya (Ali), sebab akan sama arti kalimat tersebut denga kalimat: أحب من أحبّه/cintailah orang yang mencintainya! Dan jika tetap dipaksakan pemaknaan tersebut maka akan ada dua kalimat yang memiliki satu arti yang sama! Lalu apa fungsi pengathafan (penggandengan dua kalimat) dengan huruf athaf/penggandeng?! Bukankah funsi athaf adalah menunjukkan bahwa yang diathafkan itu berbeda dengan yang diathafi?!

Riwayat dengan redaksi yang saya makusd telah diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam Târîkh-nya,7/348 dengan beberapa sanad bersambung kepada Zaid ibn Batsî’, ia berkata, “Aku mnendnegar Ali berpidaton di Rahbah….. Lalu bangunlah tiga belas orang sahabat memberikan kesaksian bahwa Nabi saw. benar-benar telah bersabda:

من كنت مولاه فعليّ مولاه ، اللّهمّ والِ من والاه وعادِ من عاداه ، وأحب من أحبّه وابغض من أبغضه ، وانصر من نصره واخذل من خذله.

Hadis tersebut juga diriwayatkan al Muttaqi al Hindi dalam Kanz al Ummâl-nya,13/158 dari riwayat al Bazzâr, Ibnu Jarir, al Khal’i dalam al Khal’iyyat. Ia berkata, ‘Al Haitsami berkata:

رجال إسناده ثقاة.

“Para perawinya terpercaya.”

Ibnu Hajar berkata;

ولكنّهم شيعة

“Tetapi mereka Syi’ah.”

Ketiga: Sebagian ulama Ahlusunnah menolak penafsiran tersebut dengan alasan pemaknaan itu tidak sesuai denga teks. Al Hafidz Muhibbuddîn ath Thabari asy Syâfi’i berkata:

قد حكى الهروي عن أبي العبّـاس : إنّ معنى الحديث : من أحبّني ويتولاّني فليحبَّ عليّاً وليتولّه.

وفيه عندي بُعد؛ إذ كان قياسه على هذا التقدير أن يقول : من كان مولاي فهو مولى عليّ ، ويكون المولى ضـدّ العدو ، فلمّا كان الاِسناد في اللفظ على العكس بعُد هذا المعنى… »

“Al Harawi menukil dari Abu al Abbâs bahwa makna hadis itu: ‘Barang siapa yang mencintaiku hendaknya ia mencintai Ali.”

Arti itu menurut saya jauh, sebab dengan pemaknaan seperti itu semestinya redaksinya harus demikian: من كان مولاي فهو مولى عليّ /barangsiapa yang dia itu maulâku maka dia adalah maulânya Ali.’

(Baca: Ar Riyâdh an Nadhirah,1/205)

Keempat: Do’a itu beliau panjatkan setelah selesai menyabdakan hadis Ghadir yang mengangkat Ali sebagai maulâ atas kaum Mukimin. Anda kata maulâ itu butuh kepada penjelasan mestinya kalimat sebelum: من كنت مولاه فهذا عليّ مولاه yang menjalaskannya. Dan pada kalimat/sabda:

« ألست أوْلى بكم من أنفسكم ؟ ! »

atau

« ألست أوْلى بالمؤمنين من أنفسهم ؟ ! »

Khusunya redaksi hadis yang menggunakan huruf Fâ’ yang dalam istilah kaidah bahasa Arab disebut dengan Fâ’ tafrî’. Dan hal ini bukti pendukung yang menentukan makna sabda suci tersebut!

Di antara yang meriwayatkan pengantar tamhaban tersebut adalah: Imam Ahmad, An Nasa’i, Ibnu Mâjah, al Bazzâr, Abu Ya’la al Mûshili, ath Thabari, ad Dâruquthni, Abu Musa al Madîni, Abu al Abbâs ath Thabari dan Ibnu Katsîr.

Tambahan tersebut menunjuk kepada ayat al Qur’an yang menetapkan hak mewalian/kepemimpinan tertinggi untuk Nabi saw.:

النبيّ أوْلى بالمؤمنين من أنفسهم…

“Nabi itu lebih utama terhadap kaum Mukminin dari diri mereka… “

ketika menafsirkan ayat di atas, para mufassir Ahlusunnah.

Baca misalnya:

1. Tafsir atl Baghawi,5/191 (dicetak di pinggir Tafsir al Khâzin).

2. Tafsir al Kasysyâf,3/523.

3. Tafsir al Baidhâwi:552.

4. Tafsir an Nasafi,3/294.

5. tafsir an Nisaburi,21/77-78 (dicetak di pinggir tafsir ath Thabari).

6. Tafsir al Jalâlain:552.

7. Irsyâd as Sâri Fî Syarhi al Bukhrai,7/280.

8. Tafsir ad Durr al Mantsûr,5/182.

Kelima: Dalam sebagian redaksi hadis Ghadir disebutkan kata: بعدي sebelum kata: مولاه, hal mana tegas-tegas menunjukkan makna kepempinan. Sebab dengan dimasukkannya kata:بعدي/setelahku telah menutup kemungkinan pemaknaan lain, baik:مولى dengan arti kecintaan atau pembelaan. Mungkinkah Nabi meminta umat Islam untuk mencintai Ali setelah kematian belaua? Lalu sebelum wafat beliau apa yang harus dilakukan?! Atau Nabi saw. menegaskan bahwa Ali adalah pembela kalian setelah wafatku! Lalu sebelum wafat beliau?

Hadis dengan redaksi tersebut telah diriwayatkan para ulama Ahlusunnah dari al Barâ’ ibn Âzib. Abdurrazzâq meriwayatkan dari al Barâ’ ibn Âzib, ia berkata:

نزلنا مع رسول الله صلّى الله عليه [وآله] وسلّم عند غدير خم ، فبعث منادياً ينادي ، فلمّا اجتمعنا ، قال : ألست أوْلى بكم من أنفسكم ؟ ! قلنا : بلى يا رسول الله ! قال : ألست ؟ ألست ؟ قلنا : بلى يا رسول الله ! قال : من كنت مولاه فإنّ عليّاً بعدي مولاه ، اللّهمّ والِ من ولاه وعادِ من عاداه.

فقال عمر بن الخطّاب : هنيئاً لك يا ابن أبي طالب ، أصبحت اليوم وليّ كلّ مؤمن »

“Kami turun (singgah) bersama Rasulullah saw. di Ghadir Khum, lalu beliau menutus seorang untuk mengumumkan (agar kami berkumpul), setelah kami berkumpul beliau bersabda:

: ألست أوْلى بكم من أنفسكم ؟ !

“Bukankah aku lebih utama terhadap kalian dari diri kalian sendiri?!”

Kami menjawab: “Benar wahai Rasulullah.”

Beliau juga bersabda: “Bukankah aku…. ““Bukankah aku…. “ Dan kami berkata: “Benar wahai Rasulullah.”

(Setelahnya) beliau bersabda:

من كنت مولاه فإنّ عليّاً بعدي مولاه ، اللّهمّ والِ من ولاه وعادِ من عاداه.

“Barang siapa yang aku maulânya maka Ali maulânya setelahku. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali maulânya dan musuhi yang memusuhinya.”

Lalu Umar setelahnya berkata kepada Ali, “Selamat wahai putra Abu Thalib. Engkau sekarang menjadi maulâku dan maulâ setiap Mukmin.” (Al Bidâyah wa an Nihâyah,7/349)

Andai makna hadis Ghadir bukan menunjukkan arti kepemimpinan, lalu bagaimana kita akan memaknai ucapan Umar di atas?

Enam: Andai makna hadis Ghadir itu tidak menunjukkan arti kepemimpinan tertinggi setelah Nabi saw….. dan ia hanya menunjukkan perintah Nabi agar manusia mencintai Imam Ali as., maka mengapakan sebagian sahabat dan tabi’in meresa keberatan ketika mendengarnya? Apa yang aneh dengan perintah mencintai Ali? Apa yang aneh dengan perintah membela Ali? Yang mendorong munculnya keberatan dari sebagian mereka adalah karena sabda Nabi saw. tersebut menetapkan hal imamah/wilayah/kepemipinan tertingga setelah Nabi, hal mana itu artinya bahwa para pendahulu Ali sebenarnya tidak memiliki hak dalam memimpin umat Islam! Ali –lah yang sebenarnya Pemimpin tertingga, Pemilik otoritas mengurus umat setelah Nabi saw. dan Pemegang Hak Wilayah mutlak!

Perhatikan riwayat ini:

Imam Ahmad dalam Musnad-nya4/370 dan an Nasa’i dalam Khashâish-nya, hadis no.88 dengan sanad shahih meriwayatkan dari Abu Thufail:

جمع عليّ الناس في الرحبة ثمّ قال لهم : أُنشد الله كلّ امرئ مسلم سمع رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم يقول يوم غدير خمّ ما سمع لما قام . فقام ثلاثون من الناس .. (قال :) وقال أبو نعيم : فقام ناس كثير ، فشهدوا حين أخذه بيده ، فقال للناس : أتعلمون أنّي أوْلى بالمؤمنين من أنفسهم ؟ !

قالوا : نعم يا رسول الله .

قال : مَن كنت مولاه فهذا مولاه ، اللّهمّ والِ مَن والاه ، وعادِ مَن عاداه .

قال أبو الطفيل : فخرجت وكأنّ في نفسي شيئاً، فلقيت زيد بن أرقم ، فقلت له : إنّي سمعت عليّاً يقول : كذا وكذا . قال زيد : فما تنكر ؟ ! قد سمعت رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم يقول ذلك له.

“Ali mengumpulkan orang-orang di Rahbah, lalu berkata meminta, “Aku meninta dengan nama Allah agar setiap orang yang pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda di Ghadir Khum: “Tidakkah kalian mengetahui bahwa aku berhak atas kaum Mukminin lebih dari diri mereka sendeiri (ketika itu beliau sambil berdiri, lalu mengangkat tangan Ali dan bersabda): “Barang siapa yang aku maula-nya maka Ali juga maula-nya. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali wali-nya dan musuhim orang yang memusuhinya.” Untuk bangu dan memberikan kesaksian!

Abu Thufai berkata, “Lalu ketika aku keluar di dalam hatiku ada sesuatun tentang hal itu, kemudian aku menjumpai Zaid ibn Arqam dan kutanykan hal itu, aku berkata kepadanya, “Aku mendengar Ali berkata begini dan begitu.” Zaid berkata, “Apa yang engkau ingkari?!” Aku benar-benar telah mendengarnya dari Rasulullah saw.

* Bukti Lain

Di samping bukti-bukti yang telah saya sampaikan, banyak bukti lain yang mempertegas bahwa sabda nabi saw. di Ghadir Khum adalah penunjukan Ali as. sebagai Pemimpin Tertinggi Umat Islam sepeninggal Nabi saw. di antara bukti-bukti itu adalah turunnya ayat al Balâgh/at Tablîgh sebelum peristiwa Ghadir Khum!

Bukti itulah yang akan kita teliti dalam artikel akan dating Insya Allah.

(Bersambung)

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda