artikel, skripsi dan tesis islam

artikel, skripsi dan tesis islam pilihan untuk pencerahan pemikiran keislaman

Rabu, 21 Januari 2009

Wahhabi Menggugat Syi’ah (7)

Wahhabi Menggugat Syi’ah (7)
Ditulis pada Oktober 31, 2008 oleh Ibnu Jakfari

Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah.

Di antara bukti yang mempertegas makna hadis Ghadir sebagai penunjukan Ali as. sebagai Imam adalah diturunkannya ayat at Tablîgh/ al Balâgh sebelum penyampaian pidato pengangkatan tersebut.

Sebelumnya telah saya sebutkan beberapa kutipan riwayat/hadis yang diriwayatkan para ulama terkait dengan ayat tersebut, di mana Allah SWT memerintah Rasul-Nya untuk menyampaikan sebuah pesan penting, kemudian Nabi saw. menyampaikan uzur akan beratnya tugas tersebut mengingat kebanyakan dari umat beliau adalah hadîtsul ‘ahdi bil jâhiyyah/baru saja meninggalkan kondisi kejahiliyahan. Akan tetapi kemudian Allah SWT. mewajibkan atas beliau untuk menyampaikannya tanpa menunda-nunda barang sebentar pun.

Perintah Allah SWT tersebut ditegaskan dalam ayat 67 surah al Maidah [5] yang dikenal dengan nama ayat at Tablîgh/ al Balâgh.

Allah berfirman:

يا أيّها الرسول بلّغ ما أُنزل إليك من ربّك وإنْ لم تفعل فما بلّغت رسالته والله يعصمك من الناس إنّ الله لا يهدي القوم الكافرين.

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah [5]; 67)



Para Ulama Ahlusunnah Yang Meriwayatkan Turunnya Ayat Tersebut Dalam Peristiwa Ghadir Khum

Turunnya ayat tersebut dalam kaitan peristiwa pengangkatan Imam Ali as. sebagai Imam di Ghadir Khum telah diriwayatkan oleh para ulama dan pembesar ahli tafsir Ahlusunnah, di antara mereka adalah:

1) Imam Ahli Tafsir Salaf, Ibnu Jarir ath Thabari (w.310H)

2) Ibnu Abi Hatim Abdurrahman ibn Muhammad ibn Idris ar Râzi (w.327H)

3) Abu Abdilllah al Husin ibn Ismail al Mahâmili (w.330H)

4) Abu Bakar Ahmad ibn Abdurrahman al Fârisi asy Syîrâzi (w.407 atau 411H)

5) Abu Bakar Ahmad ibn Musa ibn Mardawaih al Isfahâni (w. 410H)

6) Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdillah al Isfahâni (w.430H)

7) Abul Hasan Ali ibn Ahmad al Wâhidi (w. 468 H)

8) Abu Sa’id Maus’ud ibn Nâshir as Sijistâni (w. 477H)

9) Abul Qâsim Abudullah ibn Abdillah al Hakim al Hiskâni.

10) Abu Kabar Muhammad ibn Mukmin asy Syîrâzi (penulis buku Mâ Nazala Fî Ali wa Ahlil Bait.

11) Abul Fath Muhammad ibn Ali ibn Ibrahim an Nathanzi (w.550 H)

12) Ibnu ‘Asâkir; Abul Qâsim Ali ibn Husain (w 571 H)

13) Abu Sâlim Muhammad ibn Thalhah an Nashîbi asy Syâfi’i (w652 H)

14) Imam Fakhruddin ar Râzi (w.653 H)

15) Nidzamuddin Hasan ibn Muhammad an Nisâburi, penulis tafsir.

16) Badruddin Mahmud ibn Ahmad al ‘Aini (w. 855 H)

17) Jalaluddin as Suyuthi (w. 911 H)

1 8) Syeikh Muhammd ibn Ali Asy Syawkani (w.1250 H)

19) Sayyid Syihabuddin Al Alûsi (w.1270 H)

20) Syeikh Sulaiman al Qandûzi al Hanafi (1293 H)

Serta banyak lainnya sengaja tidak saya sebutkan di sini. Dan sebelumnya telah saya sebutkan sebagian riwayat mereka.



Banyak Dari Riwiyat Tentangnya Shahih

Selain itu tidak sedikit di antara riwayat tentangnya adalah shahih berdasarkan kriteria yang ditetapkan para Ahli Hadis Ahlusunnah.

Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa hadis shahih tersebut.

A) Riwayat Abu Nu’ainal Isfahâni[1]:

Di antara riwayat shahih itu adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Nu’iam sebagai berikut di bawah ini:

Abu Nu’aim berkata:

حدّثنا أبو بكر ابن خلاّد، قال: حدّثنا محمّـد بن عثمان بن أبي شيبة، قال: حدّثنا إبراهيم بن محمّـد بن ميمون، قال: حدّثنا عليّ بن عابس، عن أبي الجَحّاف والاَعمش، عن عطية، عن أبي سعيد الخدري، قال: نزلت هذه الآية على رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم في عليّ بن أبي طالب عليه السلام: (يا أيّها الرسول بلّغ ما أُنزل إليك من ربّك).

“….. dari Abu Siad al Khudri, ia berkata, “Ayat ini:

يا أيّها الرسول بلّغ ما أُنزل إليك من ربّك

turun kepada Rasulullah saw. tentang Ali ibn Abi Thalib as.”



o Sekilas Tentang Para Pariwayat

Para periwayat dalam sanad tersebut adalah:



1) Abu Bakar ibn Khallâd.

Nama lengkapnya Abu Bakar Ahmad ibn Yusuf al Baghdâdi (w.359 H).

Dalam Târîkh-nya, Al Khathîb menyebutkan data tentangnya, demikian juga dengan adz Dzahabi dalam Siyar A’lam-nya.

Di bawah ini saya sebutkan komentar para ulama tentangnya:

Al Khathîb berkata:

كان لا يعرف شيئاً من العلم، غير أنّ سماعه صحيح.

“Ia tidak tau menau tentang ilmu, hanya saja pendengarnya/ periwayatannya shahih.”

Abu Nu’aim berkata”

كان ثقة.

“Ia tsiqah/terpercaya.”

Demikian juga dia telah ditsiqahkan oleh Abul Fath dan Ibnu al Fawâris. [2]

Adz Dzahabi mensifatinya dengan:

الشيخ الصدوق، المحدّث، مسند العراق.

Syeikh yang jujur, Muhaddis, Musnid/ahli hadis penduduk negeri Irak.”[3]



2) Muhammad ibn Utsman ibn Abi Syaibah (w.297 H)

Adz Dzahabi menyebutkan biodatanya dan mensifatinya dengan:

الاِمام الحافظ المسند

“Imam, Hafidz Musnid”

kemudian ia menambahkan:

وجمع وصنّف، وله تاريخ كبير، ولم يرزق حظّاً، بل نالوا منه، وكان من أوعية العلم.

“Beliua menghimpun banyak hadis dan menulis buku. Beliau memiliki kitab tentang sejarah yang cukup besar, tapi sayang beliau kurang beruntung, bahkan banyak kalangan mencelanya. Beliau adalah bejana ilmu.”

Shaleh Jazarah berkata:

ثقة.

“Beliau adalah tsiqah/terpecaya.”

Ibnu Adi berkata:

لم أرَ له حديثاً منكَراً فأذكره.

“Aku belum pernah melihat ia memiliki satu hadis munkarpun sehingga (perlu) aku sebutkan.”

Setelah itu, al Khathîb menyebutkan bahwa ada beberapa orang yang hidup sezaman dengannya yang mencacatnya, yaitu Abdullah putra Imam Ahmad (w. 290 H), Ibnu Kharrâsy (w.283 H) dan Muthayyin (297 H).

Dan dari data yang ada ternyata kelihatannya bahwa pencacatan itu dipicu oleh adanya perselisihan di antara mereka dengannya, sehingga mendorong mereka mencacatnya dan berkomentar negatif tentangnya. Khususnya antara dia dengan Ibnu Kharrâsy, sehingga antara kedua saling mencacat dan mencela.[4]

Sementara itu, seperti ditegaskan para ulama bahwa pencacatan yang terjadi di antara para ulama hadis yang hidup sezaman, aqrân/muta’âshirain tidak perlu dianggap dan dijadikan pedoman dalam pencacatan seorang periwayat.

Karenanya adz Dzahabi seperti dikutip Ibnu Hajar berkomentar, “Ucapan aqrân, para teman sezaman tentang sesama mereka tidak perlu dihiraukan, khususnya jika tanpak darinya bahwa ia muncul karena permusuhan atau perbedaan mazhab atau rasa hasud…. Andai aku mau pasti aku akan sebutkan berlembar-lembar kasus ini.“[5]

Setelah menyebutkan penukilan al Hakim tentang perseteruan dan saling lempar kecaman antara ‘Amr ibn Ali dan Ali ibn al Madîni, adz Dzahabi berkomentar, “Sesungguhnya omongan aqrân tidak dapat dianggap satu sama lainnya. Jika ia tidak dijelaskan maka tidak akan menggugurkan keadilan (yang dicacat).”[6]

Adz Dzahabi juga berkata, “Dan kasus ini (pencacatan antara teman sezaman dengan dasar hawa nafsu) adalah sangat banyak, sepantasnya untuk dilipat (dirahasiakaan) dan tidak diriwayatkan, dibuang dan tidak dijadikan dasar pencacatan, tha’nan. Dan hendaknya setiap orang diperlakukan dengan adil.”[7]

Serta banyak lagi komentar serupa dari para ulama Ahli Hadis.



3) Ibrahim ibn Muhammad ibn Maimûn.

Ibnu Hibbân telah memasukkannya dalam daftar nama-nama para periwayat tsiqât/terpercaya sembari berkata, “Ibrahim ibn Muhammad ibn Maimûn al Kindi al Kufi, ia telah meriwayatkan hadis dari Sa’id ibn Hakîm al Absi dan Daud ibn Zarqâ’. Dan darinya Ahmad ibn Yahya ash Shufi meriwayatkan hadis. “[8]

Dan ia tidak pernah disebut-sebut dalam daftar periwayat dha’if.

Hanya saja yang menjadi alasan ia dicacat oleh sebagian adalah konsistensinya dalam meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Imam Ali as. dan sikap sektarian dan ketidak-obyektifan seperti itu dari sebagian ulama hadis, khususnya yang terjangkit virus penyakit nashb/kebencian kepada Ahlulbait as., bukanlah hal samar bagi pemerhati liku-liku ilmu hadis! Banyak contoh akan hal itu. Seperti dikatakan adz Dzahabi tentang Ahmad ibn al Azhar, ia berkata tentangnya:

وهو ثقة بلا تردّد، غاية ما نقموا عليه ذاك الحديث في فضل عليٍّ رضي الله عنه.

“Ia tsiqah tanpa diragukan lagi. Hanya saja mereka (para Ahli Hadis) murka atasnya dikarenakan ia meriwayatkan sebuah hadis tentang keutamaan Ali ra.”[9]



4) Ali ibn Âbis

Ia adalah periwayat andalan Imam at Turmudzi dalam Sunannya. Hanya saja, para ulama hadis mencacatnya tanpa alasan semata hanya karena ia meriwayatkan hadis di atas dan hadis-hadis keutamaan Ali as. lainnya! Hal itu dapat diketahui dari komentar Ibnu Adi ketika ia berkata:

له أحاديث حسان، ويروي عن أبان بن تغلب وعن غيره أحاديث غرائب، وهو مع ضعفه يكتب حديثه.

”Ia memiliki banyak hadis yang hasan/baik dan ia meriwayatkan dari Abân ibn Taghlib dan selainnya banyak hadis gharib. Dan ia kendati lemah, hadisnya boleh ditulis.”[10]

Jika kita ketahui bahwa Abân ibn Talghlib adalah salah seorang tokoh besar Syi’ah Imamiyah[11], maka menjadi jelaslah bagi kita bahwa hadis-hadis yang dicacat Ibnu Adi dengan kata-kata gharâib adalah tentang keutamaan Ahlulbait as, dan karenanya ia pun dicacat, walaupun pada hakikatnya ia seorang yang jujur, oleh karena itu hadisnya pun boleh ditulis, maksudnya hadis-hadis selain keutamaan Ali dan Ahlulbait as. Sebab jika ia seorang pembohong maka tidaklah benar bagi Ibnu Adi mengatakan bahwa hadisnya boleh ditulis!



5) Abu al Jahâf.

Nama lengkapnya adalah Daud ibn Abi ‘Auf. Ia periwayat yang dipakai oleh Adu Daud, an Nasa’i dan Ibnu Mâjah. Imam Ahmad dan Yahya ibn Ma’in mentsiqahkannya.

Abu Hâtim berkata tentangnya, “Ia bagus hadisnya.”

An Nasa’i berkata, “Ia tidak mengapa-ngapa, lâ ba’sa bihi.”

Namun anehnya, kendati tidak ada cacat padanya, Ibnu Adi tetap saja tidak mau berhujjah dengannya!

Mengapa demikian?

Perhatikan alasan yang disampaikan Ibnu Adi tentangnya sebagaimana di bawah ini:

ولاَبِي الْجَحّاف أحاديث غير ما ذكرته، وهو من غالية التشـيّع، وعامّة حديثه في أهل البيت، ولم أرَ لمن تكلّم في الرجال فيه كلاماً، وهو عندي ليس بالقوي، ولا ممّن يحتجّ به في الحديث.

“Abu Jahâf memiliki beberapa hadis selain yang saya telah sebutkan. Ia termasuk Syi’ah ekstrim. Rata-rata hadis yang ia riwayatkan tentang keutamaan Ahlulbait. Dan saya tidak melihat ada seorang alim pun yang membicarakan/mencacatnya. Dan dia menurutku tidak kuat dan termasuk yang tidak boleh dijadikan hujjah dalam hadisnya.” [12]



6) Al A’masy.

Ia termasuk periwayat yang dipercaya seluruh penulis eman kitab hadis standar Ahlusunnah yang, ash Shihâh as Sittah.[13] Jadi tidak perlu diragukan kredibilitasnya dalam dunia hadis.



Kesimpulan!

Dari paparan ringkas di atas dapat disimpulkan bahwa hadis Abu Nu’aim di atas adalah dapat diandalkan, ia shahih, dan telah diriwayatkan melalui mata rantai periwayat yang terpercaya di kalangan ulama Ahlusunnah sendiri.

Adapun tentang Athiyyah akan dibicarakan nanti!

(BERSAMBUNG)

[1] Khashâish al Wahyi al Mubîn, Ibnu Bithrîq (W.600 H): 53 dari Mâ Nazala Min al Qur’an Fî Ali; Al Hafidz Abu Nu’aim al Isfahâni.

[2] Târîkh Baghdâd,5/220-221.

[3] Siyar A’lam an Nubalâ’,16/69.

[4] Tarikh Baghdâd,3/43.

[5] Lisân al Mîzân,1/201-202 ketika menyebut diodata Abu Nuiam; Ahmad ibn Abdullah.

[6] Tahdzîb at Tahdzîb,8/71 ketika menyebut diodata ‘Amr ibn Ali ibn Bahr ibn Kanîz al Bâhili.

[7] Ar Ruwât ats Tsiqât:24. Dan kenyataan ini sebenarnya sangat membahayakan lagi dapat menggugurkan kepercayaan terhadap obyektifitas para ulama itu. Perhatikan!

[8] Ats Tsiqât,8/74. kenyataan pahit ini harus selalu menjadi bahan pertimbangan bagi yang menemukan pencacatan atas seorang periwayat, khususnya yang meriwayatkan hadis keutamaan Ahlulbait as.!

[9] Siyar A’lâm an Nubalâ’,12/364.

[10] Al Kil Fi adh Dhu’afâ’,5/190 nomer data1347.

[11] Ibnu Hajar berkomentar tentangnya, “Abân tsiqah, ia dibicarakan sebab kesyi’ahannya.” Adz Dzahabi berkata, “Abân ibn Taghlin Al Kufi, seorang Syi’ah tulen tetapi ia sangat jujur… Ibnu Adi mengatakan, “Ia seorang Syi’ah ekstrim”.

[12] Al Kâmil Fi adh Dhu’afâ,3/82-83 nomer data 625.

[13] Taqrîb at Tahdzîb,1/331.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda