artikel, skripsi dan tesis islam

artikel, skripsi dan tesis islam pilihan untuk pencerahan pemikiran keislaman

Rabu, 21 Januari 2009

Menjawab Sidogiri (7)

Menjawab Sidogiri (7)
Ditulis pada April 12, 2008 oleh Ibnu Jakfari

Menguak Tuduhan Palsu Tim Sidogiri Terhadap Ulama Syi’ah (2)

Setelah kita saksikan kepalsuan tuduhan kepada Syeikhuna al Ajalla Fadhl ibn Syâdzân bahwa beliau telah menyatakan secara tagas terjadinya tahrîf… kini mari kita ikuti bersama kepalsuan tuduhan lain yang dilontarkan Tim Sidogiri.

· Furât al Kûfi (ulama Syi’ah abad ke-3)

Tuduhan itu didasarkan karena beliau menyebut riwayat yang disinyalir menunjukkan adanya penambahan dalam ayat-ayat Al Qur’an dal am tafsir beliau. (1/18).

Sementara semua mengetahui bahwa tafsir Furat al Kufi hanya memuat riwayat tanpa sedikitpun memberikan komentar.

Maka dari sini jelas terlihat bahwa klaim bahwa Furat al Kufi termasuk yang meyakini tahrîf Al Qur’an hanya didasarkan pada adanya riwayat dalam kitab tafsir beliau.

Lalu bagaimana Tim Sidogiri mengatakan bahwa Furât al Kûfi termasuk yang tegas-tegas mengatakan dan meyakini adanya tahrîf? Apa yang mereka maksud dengan kata-kata “tegas” itu? Apakah mereka memiliki kamus sendiri yang tidak sama dengan kamus-kamus bahasa Indonesia yang berlaku?!

Jika sekedar meriwayatkan dapat dituduh “tegas-tegas’meyakini tahrîf, maka pastilah kita akan dengan mudah menyebutkan tarusan ulama Ahlusunnah yang terjaring sebagai yang meyakini tahrîf! Khususnya Bukhari, Muslin dan penulis kitab-kitab Shihâh, Sunan dan Masânid.

Apakah jika yang meriwayatkan hadis yang “konon” dapat dimaknai tahrîf seorang ulama Syi’ah, kalian berhak menuduhnya meyakini tahrîf?! Adapun jika yang menulisnya adalah seorang ulama Ahlusunnah, mereka tidak berhak disebut sebagaii yang meyakini tahrîf? Inikah kajian dan penelitian ilmah yang kalian bangakan itu?!

Inikah kejujuran penyimpulan yang kalian kedepankan dalam tulisan-tulisan kalian?

Sepertinya, kejujuran, ilmiah, penelitian dan istilah-istilah lain itu memiliki makna dan pengertian khusus yang tidak dapat ditemukaan dalam kamus dan penggunaan orang lain?!

· Ayyâsyi (ulama Syi’ah abad ke-3)

Nama lengkap al Ayyâsyi adalah Muhammad ibn Mas’ud al Ayyâsyi, penulis kitab Tafsir yang cukup dikenal. Syeikh an Najjâsyi meneyebut biodatanya demikian, “Beliau tsiqah, shadûq, seorang tokoh mazhab ini. Beliau banyak meriwayatkan dari perawi dhu’afâ’. Pada awal hidupnya ia bermazhab Sunni dan banyak meriwayatkan dari ulama Sunni.”[1]

Syeikh ath Thûsi menyebutnya demikian, “Paling banyaknya penduduk timur dan barat dakam ilmu, sopan santun, keutamaan di samanya. Ia menulis lebih dari 200 karya tulis, telah kami sebutkan dalam kitab kami al Fihrisat. Ia punya majlis khusus untuk pengikut Syi’ah dan majlis khusus untuk orang-orang Ahlusunnah. Semoga Allah merahmatinya.”[2]

Seperti telah disingggung, kendati beliau seorang yang jujur terpercaya, tisqah, akan tetapi beliaau banyak menukil hadis dari kalangan perawi yang lemah. Hadis-hadis dalam kitab tafsirnya mursal (tidak disebutkan mata rantai periwayatnnya). Hal iru dilakukan oleh para penulis ulang naskah tafsir beliau dengan tujuan meringgkas, tetapi tindakan itu justru merugikan bagi usaha penelitian kualitas hadis yang beliau sebeutkan dalam tafsir tersebut. Selai itu, tafsir tersebut sampai kepada kita tidak lengkap, hanya sampai pada tafsir surah al Kahfi.[3]

Al Ayyâsyi Dan Tahrîf Al Qur’an

Seperti Anda ketahui bahwa Tim Sidogiri menuduh al Ayyâsyi sebagai yan secara tegas menyatakan terjadinyaa tahrîf pada Al Qur’an, sementara itu, tidak ada bukti penegasan itu. Tuduhan itu hanya didasarkan pada beberapa riwayat yang beliau sebutkan dalam tafsir beliau. (1/12-13 dan 47-48).

Dan seperti berulang kami tegaskan bahwa tidaklah benar kita menisbatkan sebuah pendapat kepada seorang hanya sekedar karena orang tersebut meriwayatkan sebuah ada beberapa hadis yan secara lahiriah mungkin dapat dimaknai tahrîf. Apalagi –dalam kasus kita ini- tafsir al Ayyâsyi telah dihapus sanad/mata rantai periwayatnya sehingga tidak lagi dapat diteliti apakah hadis yang menyebutkan tahrîf itu shahih atau lemah!

Tetapi terlepas dari itu semua hadis yang disinyalir menunjukkan tahrîf itu telah diteliti para ulama Syi’ah dam mereka memberikan arahan bahwa apa yang disebutkan dalam riwayatriwayat itu menunjukkan adanya penghapusan nama-nama para imam Ahlulbait as. adalah bukan berarti nama-mana tersebut dimuat dalam ayat-ayat suci Al Qur’an lalu dihapus oleh sebagian umat ini, akan tetapi seperti yang juga telah kami jelaskan sebelumnya bahwa nama-nama itu disebutkan dalam tafsir yang didasarkan pada wahyu yang dalam istilah ulama Syi’ah (berdasarkan hadis-hadis Ahlulbait as.) diistilahkan dengan tanzîl. Itulah yang mengalami penghapusan, bukan tekas ayat Al Qur’annya. Tentunya penaknaan demikain itu dilakukan setelah kita menganggap untuk sementara waktu bahwa hadis-hadis shahih sanadnya.

· Abu al-Qâsim Ali ibn Ahmad al-Kufi (w.325H)

Nama lain yang juga dituduh menyatakan terjadinya tahrîf secara tegas adalah Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi. Ia dituduh menyatakan kayakinan tahrîf itu dalam kitab al Istighâtsah-nya:51-53).

Untuk lebih jelasnya, perhatikan ulasan di bawah ini.

Siapakah Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi Dan Bagaimana Kualitas Kitab al Istighâtsah?

Sebelum mengandalkan sebuah kitab sebagai bukti sebuah keyakinan yang akan dinisbahkan kepada sekelompok umat atau mengganut sebuah mazhab, sudah seharusnya seorang peneliti untuk mengenal jati diri penulis atau ulama yang dibawakan pendapatnya dan sejauh mana kitab yang diandalkannya itu diterima oleh tokoh-tokoh mazhab yang hendak diteliit tersebut! Jika tidak, maka jalaslah bahwa penelitian itu tidak memenuhi unsur-unsur minimal sebuah penelitian ilmiah.

Sepertinya norma dan etika penelitian ini yan tidak dimiliki oleh adik-adik yang tergabun dalam Tim Penulis Buku Sidogiri. Maklum mungkin mereka masih pemula yang baru terjun ke dalam dunia penelitian.

Mereka menyebut nama Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi sebagai sebagai tokoh dan pemuka Syi’ah yang secara tegas menyatakan terjadinyan tahrîf.[4]

Akan tetapi, apabila kita merujuk pernyataan dan komentar ulama dan tokoh Syi’ah tentang Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi, kita pasti akan menjadi heran atas sikap dan tindakan Tim Penulis Buku Sidogiri, karena ternyata Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi adalah seorang yang sangat dikecam oleh para tokoh dan ulama Syi’ah. Mereka menegaskan bahwa Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi adalah seorang yang sesat dan kitab al Itsighâtsah karangannya adalah penuh dengan kesesatan tersebut!

Perhatikan komentar ulama dan tokoh Syi’ah di bawah ini:

An Najjâsyi berkata, “Ia mengaku dari keturunan Abu Thalib, pada akhir usianya ia bersikap ghuluw (sesat dalam keyakinannya dengan mendewakan para imam) dan rusak/fasad mazhabnya. Ia mengarang banyak kitab, kebanyakannya mengandung keyakinan sesat, di antaranya adalah kitab al Itighâtsah ini, seperti ditegaskan oleh Syeikh. Pada awalnya ia bermazhab Syi’ah Imamiyah dan mengarang beberapa buku yang lurus, di antaranya kitab al Awshiyâ’ dan kitab tentang Fikih seperti tartib kitab karya al Muzani. Kemudian ia kacau dan menampakkan mazhab al Khamsah dan menulis buku tentang al Ghuluw…. “

Ibnu al Ghadhâiri berkata, “Ia seorang kadzdzâb/pembohong besar, penyandang bid’ah dan pendapat yang sesat. Saya pernah melihat bahwa ia punya banyak kitab karangan, tidak pantas ditoleh. Allamah berkata maksud mazhab al Khamsah di kalangan kaum Ghulât –semoga Allah melaknat mereka- adalah bahwa Salman al Fârisi, al Miqdâd, Ammâr, Abu Dzarr, Amr ibn Umayyah adh Dhamri adalah yang ditugasi untuk mengatur kemaslahatan alam semesta.”[5]

Inilah sejatinya Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi di mata ulama dan tokoh Syi’ah dan itulah kualitas kitab al Istiggâtsah yang diandalkan Tim Penulis Sidogiri dalam menuduh Syi’ah Imamiyah dengan tuduhan tahrîf. Lalu apa yang tersisa dari kualitas ilmiah penelitian Tim tersebut. Mengapa mereka bangga menuduh Syi’ah dengan penegasan –andai benar ada penegasan dari Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi – seorang yang oleh ulama Syia’h sendiri sudah dipastikan sesat dan keluar dari kafilah Syi’ah Imamiyah?!

Andai tindakan serupa dilakukan oleh pihak lain dengan menuduh Ahlusunnah berkeyakinan tertentu yang pernah dinyatakan dan ditegaskan oleh seorang ulama Ahlusunnah yang telah menyimpang dari mazhab Ahlusunnah, apakan ulama Ahlusunnah akan menerimanya? Atau justru mereka akan keberatan dan menolaknya dengan mengatakan, kami tidak akan bertanggung jawab atas pendapat-pendapat sesatnya! Dan kami tidak akan menerima apabila kesesatannya dinisbatkan kepada mazhab kami!

Apakah kalian rela jika ada yang menuduh bahwa di antara keyakinan Ahlusunnah adalah bahwa Nabi Muhammad bukan nabi terakhir, masih ada nabi lagi setelah beliau yaitu Mirza Ghulam Ahmad, dengan alasan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang ulama Sunni!! Atau dengan alasan bahwa di antara yang meyakini kenabian Mirza Ghulam Ahmad adalah beberap ulama Sunni!!

Pasti kalian akan menjawab bahwa Mirza Ghulam Ahmad atau siapapun ulama Sunni yang meyakini kenabiannya telah keluar dari Ahlulsunnah bahkan telah keluar dari agama Islam dengan keyakinan sesatnya itu! Kerenanya tidak benar apabila keyakinan seperti itu dituduhkan kepada kami Ahlusunnah!! Kalian benar dalam alasan yang kalian kemukakan itu… siapapun tidak berhak menuduh kalian dengan tuduhan seperti itu, sebab Mirza Ghulam Ahmad telah sesat dan keluar dari mazhab kalian!!

Lalu jika demikian mengapa kalian menudu Syi’ah dengan menyebut nama orang yang telah dilaknat dan dikecam oleh ulama dan tokoh-tokoh Syi’ah?! Adilkan sikap kalian itu?

Tetapi sekali lagi, saya dapat memaklumi mengapa Tim Sidogiri terjatuh dalam kesalahan seperti ini. Sebab mereka telah tertipu oleh provokasi para penulis Wahhabi yang tak henti-hentinya, siang malam menebar benih-benih perpecahan di tengah-tengah umat Islam dengan menfitnah mazhab Syi’ah dengan berbagai macam kekejian dan kepalsuan.

Sekali lagi saya dapat memaklumi mengapa kesalahan itu terjadi!! Semoga Tim Penulis Sidogiri segera kembali ke Khiththah para pendahulunya dengan tidak bermesraan dengan kaum Wahhabi dan penulis-penulis Wahhabi bayaran dan antek-anteknya; para penabur fitnah yang aktif mendatangi pesantern-pesantren saudara-saudara kita Ahlusunnah.

Nasihat saya untuk kalian semua, perhatikan firman Allah SWT ini:

وَ لا تُطِعْ كُلَّ حَلاَّفٍ مَهينٍ * هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَميمٍ * مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثيمٍ * عُتُلٍّ بَعْدَ ذلِكَ زَنيمٍ *أَنْ كانَ ذا مالٍ وَ بَنينَ *

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, Yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya. Karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. (QS. al Qalam; 8-14)

Jika kalian renungkan ayat-ayat di atas di keheningan malam, pastilah akan tampak bagi kalian bahwa apa yang difirmankan Allah SWT di atas sangat relefan dengan para penabur fitnah yang gentayangan masuk kelua PONPES kaum Muslimin untuk menabur benif furqah dan perpecahan…. mereka kasar sikap dan tutur katanya dan terkenal kejahatannya… . dan selain itu, mereka manawarkan harta yang tidak sedikit bagi sesiapa yang mau menjual agamanya dengan bergabung dalam kafilah menabur fitnah dan pemecah belah umat Islam. Tetapi ketahuilah wahai teman-temanku bahwa:

وَ ما أُوتيتُمْ مِنْ شَيْ‏ءٍ فَمَتاعُ الْحَياةِ الدُّنْيا وَ زينَتُها وَ ما عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَ أَبْقى‏ أَ فَلا تَعْقِلُونَ.

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya.” (QS.al Qashash [28];60(

وَ لا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلى‏ ما مَتَّعْنا بِهِ أَزْواجاً مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَياةِ الدُّنْيا لِنَفْتِنَهُمْ فيهِ وَ رِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَ أَبْقى‏ .

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS.Thaha [20];131)

Dan yang penting sekarang, camkan baik-baik bimbingan Al Qur’an di bawah ini:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِنْ جاءَكُمْ فاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصيبُوا قَوْماً بِجَهالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلى‏ ما فَعَلْتُمْ نادِمينَ.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurât [49];6)

Adakah kefasikan yang lebih kental dari seorang yang serampangan menuduh saudara Muslim seagamanya telah kafir dan menfitnahnya meyakini kesesatan?!

Maka dari itu jauhilah prasangka buruk dan jangan berkata kecuali apa yang kalian ketahui dengan pasti tanpa ada kesamaran sediktipun.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثيراً مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَ لا تَجَسَّسُوا وَ لا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضاً أَ يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحيمٌ .

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurât [49];12)

[1] Rijâl an Najjâsyi:247.

[2] Rijâl ath Thûsi:497.

[3] Baca adz Dzarî’ah,4/295.

[4] Mungkinkkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH?:303.

[5] Mu’jam Rijâl al Hadîts; Sayyid Imam Abu al Qâsim al Khû’i,11/246-247.

DIarsipkan di bawah: Aqidah, Fitnah Wahhabi, Keotentikan Al-Qur'an, Manhaj, Menjawab Blog Haulasyiah, Menjawab Sidogiri

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda