artikel, skripsi dan tesis islam

artikel, skripsi dan tesis islam pilihan untuk pencerahan pemikiran keislaman

Rabu, 21 Januari 2009

Wahhabi Menggugat Syi’ah (14)

Wahhabi Menggugat Syi’ah (14)
Ditulis pada Nopember 19, 2008 oleh Ibnu Jakfari

Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah ( 8)

Sikap Syeikh Agung Wahhabi; Nashiruddin al Albâni Tentang Hadis Ghadir

Diriwayatkannya hadis Ghadir dan hadis tentang sebab turunnya ayat al Balâgh dalam kitab-kitab kalangan Jumhur adalah bukti pemeliharaan Allah SWT akan agama-Nya, sebab pada dasarnya hadis Ghadir adalah bukti kuat penunjukan Imam Ali as. sebagai pemimpin, Khalifah sepeninggal Rasulullah saw. karenanya sebagian kaum Nawâshib (para pembenci Imam Ali dan Ahlulbait Nabi saw.) merasa sakit hati terhadapnya, dan benar-benar dibuat kebingungan untuk menentukan sikap terhadapnya, yang kemudian mencari-cari cela dan mengada-ngada catat pada hadis tersebut, walau harus menjungkir balikkan etika penelitian dan kaidah-kaidah yang berlaku. Dan seperti biasanya, senjata kaum lemah adalah memuaskan nafsu mereka dengan caci-maki, kata-kata keji dan tuduhan palsu!


Sebelumnya Anda telah menyaksikan bagaimana Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâb- pendiri aliran Wahhabiyyah- mencacat tanpa dasar hadis tersebut!

Kini, Anda saya ajak melihat sikap tokoh andalan kaum Wahhabiyyah dan yang selalu dibanggakan dalam penelitian hadis, ia adalah Syeikh Nâshiruddîn al Albâni. Dalam bukunya Silsilah al Ahâdits ash Shahîhah (yang penuh kesalahan dan kontradiksi seperti buku-bukunya yang lain), al Albâni mengatakan, “Nabi saw. senantiasa dijaga sehingga turun ayat: والله يعصمك من الناس, maka Rasulullah mengeluarkan kepala beliau dari qubah (kemah) dan bersabda kepada para penjaga, ‘Wahai manusia, pergilah kalian, karena Allah telah memeliharaku.’”

Hadis ini diriwayatkan oleh at Turmudzi,2/175, Ibnu Jarir,6/199 dan al Hâkim,2/3 dari jalur al Hârits ibn Ubaid dari Sa’ad al Jariri dari Abdu ibn Syaqiîq dari Aisyah, ia berkata, “…. .”

Dan setelah berpanjang-panjang menyebutkan mana yang benar di antara jalur periwayatan hadis di atas, dan setelah menyebutkan hadis Ibnu Hibbân dalam Shahih-nya:1739 dari Abu Hurairah melalui dua jalur bahwa ayat tersebut turun disebabkan ada seorang Arab Baduwi yang menyerang Nabi saw. di kemahnya di sa’at beliau tertidur, lalu membangunkan dan mengancam akan membunuhnya dengan mengatakan, ‘Hai Muhammad, siapakah yang akan menyelamatkanmu malam ini dariku? Dan Nabi menjawab, ‘Allah’. Maka Allah menurunkan ayat itu dalam peristiwa tersebut … setelah itu semua, ia menuangkan kemarahannya kepada Syi’ah, ia berkata, “Ketahuilah bahwa kaum Syi’ah mengaku –menyalahi hadis-hadis yang telah lewat- bahwa ayat tersebut turun di Ghadir Khum tentang Ali ra.. Mereka menyebut beberapa riwayat yang kebanyakannya adalah berstatus mursal (tidak bersambung sanadnya) dan mu’dhal di antaranya adalah hadis riwayat Abu Sa’id al Khudri, dan ia tidak shahih darinya, seperti telah saya tahqîq dalam kitab Silsilah al Ahâdîts adh Dah’îfah:4922 …. dan setelah menuduh ulama Syi’ah sebagain yang gemar berbohong dan menghalalkannya dengan nama taqiyyah, serta menipu, dengan mengutip vinis Ibnu Taimiyyah (musuh bebuyutan Syi’ah yang tidak pernah jujur terhadap mereka), ia melanjutkan, “dan yang lebih jelas kebohongannya darinya (Syarafuddin) adalah Khumaini, ia menegaskan dalam kitabnya Kasyfu al Asrâr:149 bahwa ayat al Ishmah (al Balâgh) turun di Ghadir Khum berkaitan dengan imamah Ali ibn Abi Thalib sesuai dengan pengakuan ulama Ahlusunnah dan kesepakatan Syi’ah. Demikian ia katakan, semoga Allah memperlakukannya dengn yang layak baginya!”

Ibnu Jakfari berkata, “Wahai tuan al Albâni, tinggalkan kebiasaan mencaci, menuduh dan menvonis sembarangan…. sebab ia adalah senjata kaum lemah! Tinggalkan pula mengkalsivikasi manusia menjadi sekte yang jujur dan gemar berbohong… di antara penganut Syi’ah sebagaimana di antara penganut Ahlusunnah pasti beragam! Tetapi kaum Nawâshib yang gemar menolak dan mengkafiri nash-nash keutamaan Ahlulbait as., dan gemar menuduh secara palsu para pecinta mereka perlu ditetapkan atas mereka hukum dan sikap tertentu!

Dan jika Anda mengandalkan Ibnu Taimiyyah ddalam menilai kaum Syi’ah, maka sangat riskan, sebab seorang yang tidak pernah jujur dan obyektif sikapnya terhadap Imam Ali as. dan hadis-hadis keutaman beliau, apa munkin akan obyektif dan jujur terhadap para pecinta beliau?!

Bukankah Anda sendiri telah membantah kekejian sikap Ibnu Taimiyyah ketika menvonis palsu bagian akhir hadis Ghadir yang mutawatir itu, ketika itu Anda membantahnya dengan panjang lebar dan teliti serta mengatakan bahwa Ibnu Taimiyyah dalam sikapnya itu bergesah-gesah sebelum meneliti seluru jalur-jalurnya, seperti yang Anda tegaskan dalam Silsilah al Ahâdîts sh Shahîhah:344.

Ketika Anda menvonis hadis-hadis tentang turunnya ayat al balâgh di Ghadir Khum berkaitan dengan imammah Ali as. sebagai hadis-hadis mursal dan mu’dhal, apakah Anda telah meneliti seluruh-jalur-jalurnya?

Sudahkah Anda telah meneliti jalur hadis-hadis tersebut dalam riwayat ats Tsa’labi, riwayat Abu Nu’aim, riwayat al Wâhidi, riwayat Abu Sa’id as Sijistâni, riwayat al Hiskâni dengan mengecek satu persatu sanadnya, lalu Anda mendapatkannya riwayatriwayat mursalah dan mu’dhalah?!

Atau jangan-jangan Anda juga terjatuh dalam kubangan fanatisme dan ketergesah-gesahan dalam menvonis setiap riwayat yang bertolak belakaang dengan doktrin mazhabnya.

Sayang Anda telah meninggalkan alam baqa’ ini sehingga tidak dapat menanggapi apa yang saya katakan ini, namun paling tidak, harapan saya bahwa para pengagummu dari kalangan kaum Wahhabi dan Salafi dapat membelamu dan mau melakukan penelitian terhadap beberapa saja dari jalur-jalur hadis tersebut.

Di sini saya minta mereka sanggup melakukan penelitian terhadap sanad/jalur riwayat-riwayat hadis tersebut dalam kitab Syawâhid at Tanzîl, karya al Hâkim al Hiskâni –murid imam al Hâkim an Nisâbûri penulis al Mustadrak, pada riwayat dengan nomer:

1) 244 dari Abu Sa’id al Khudri.

2) 245-246,249 dan 250 dari Ibnu Abbas.

3) 247 dari Abdullah ibn Abi Aufâ.

4) 248 dari Muhammad al Baqir ibn Ali ibn Husain.

Dengan catatan gunakan kaidah dan metodologi yang biasa digunakan Syeikh al Albâni, dan jangan mendhaifkan seorang perawi di sini yang ia tsiqahkan ditempat lain hanya karena ia meriwayaatkan hadiss keutamaan Imam Ali as.!!

Dan sebenarnya apa yang telah saya sebutkan sebelumnya di awal pembahasan ini sudah cukup sebagai bukti keshahihan riwayat-riwayat tersebut, andai mereka mau bertaqwa kepada Allah dan bersikap jujur serta meningggalkan fanatisme terkutuk!

(Selesai)

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda