artikel, skripsi dan tesis islam

artikel, skripsi dan tesis islam pilihan untuk pencerahan pemikiran keislaman

Rabu, 21 Januari 2009

Wahhabi Menggugat Syi’ah (15)

Wahhabi Menggugat Syi’ah (15)
Ditulis pada Nopember 25, 2008 oleh Ibnu Jakfari

Turunnya ayat Ikmâluddîn (1)

Di antara bukti-bukti yang mempertegas bahwa sabda Nabi saw. untuk Imam Ali as. di Ghadir Khum itu menunjuk pada makna kepemimpinan, imamah, selain turunnya ayat al Balâgh sebelum peristiwa Ghadir tersebut, adalah turunnya ayat al Ikmâl setelahnya.

Setelah Nabi saw. menyampaikan sabdanya yang mengangkat Ali as. sebagai imam dan pemimpin tertinggi umat Islam setelah Rasulullah saw. Maka Allah Allah SWT menurunkan ayat dan menegaskan bahwa sekarang agama telah sempurna dan nikmat Allah pun telah lengkap!

Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دينَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتي‏ وَ رَضيتُ لَكُمُ الْإِسْلامَ ديناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah [5];3)

Turunnya ayat tersebut di atas dalam kaitan penyampaian hadis Ghadir adalah bukti nyata dan kuat bahwa yang dimaksud dengan sabda suci tersebut adalah kepemimpinan Imam Ali as., sebab tidak ada selain imamah dan khilafah yang pantas dijadikan penyempurna agama dan kelengkapan nikmat. Karenanya, imamah adalah sendi penting dalam agama, yang dengannya agama menjadi sempurna dan nikmat menjadi lengkap!

Bukti bahwa ayat tersubut turun dalam kaitan pengangkatan Imam Ali as. di Ghadir Khum telah diriwayatkan dalam beberapa riwayat Ahlusunnah dari Rasulullah saw. melalui beberapa sabahat dan tabi’in, di antaranya Abu Sa’id al Khudir, Abu Hurairah, Jabir ibn Abdillah dan Mujahid.



Para Ulama Ahlusunnah Meriwayatkannya!

Hadis tentang turun ayat al Ikmâl dalam kaitan pengangkatan Imam Ali as. di Ghadir Khum telah diriwayatkan oleh puluhan ulama Ahlusunnah melalui banyak jalur periwayatan. Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa nama di antara mereka:

1) Ibnu Jarir ath Thabari (w.310 H)

2) Ad Dâruquthni (w.385 H).

3) Abu Hafs ibn Syâhîn (w.385H).

4) Abu Abdillah al Hâkim an Nîsâbûri (w.405H).

5) Abu Bakar Ibnu Mardawaih (w.410 H).

6) Abu Nu’aim al Ishfahâni (w.430 H).

7) Abu Bakaar Ahmad ibn Hasan al Baihaqi (w.458 H).

8) Abu Bakar al Khathîb al Baghdâdi (w.463 H).

9) Abu al Hasan Ibn Naqûr (w. 470 H)

10) Abu Sa’id as Sijistâni (w.477H).

11) Ibnu Al Maghâzili (w.483H).

12) Abu al Qâsim al Hâkim al Hiskâni.

13) Hasan ibn Ahmad al Haddad al Isfâhâni (w. 515 H)

14) Abu Bakar ibn al Marzûqi (w. 527 H).

15) Abul Hasan ibn Qubais (w. 530 H).

16) Abul Qasim ibn as Samarqandi (w. 536 H).

17) Abu al Fath an Nathanzi (w. 550 H).

1 8) Abu Manshur as Sahr Dâr ibn Syirawaih ad Dailami (w. 558 H).

19) Al Muwaffaq ibn Ahmad al Makki al Khawârizmi (w. 568 H).

20) Ibnu ‘Asâkir ad Dimasyqi (w.571 H).

21) Abu Hâmid Sa’aduddîn ash Shâlihâni.

22) Abu al Mudzaffar Sibtu Ibn Jawzi (w. 654 H).

23) Abdurrazzâq ar Ras’ani (w.661 H).

24) Syaikhul Islam al Hamaini al Juwaini (w. 722 H).

25) Ibnu Katsir ad Dimasyqi (w. 774 H).

26) Jalaluddîn as Suyuthi (w.911 H).

Mereka itulah para ulama Ahlusunnah yang meriwayatkan dalam buku-buku mereka riwayat tentang turunnya atas al Ikmâl terkait dengan pengangkatan Imam Ali as. di Ghadir Khum.

Di bawah ini saya ajak pembaca untuk melihat langsung sebagian riwayat mereka agar menjadi jelas keshahihannya, tidak seperti anggapan sementara orang yang tidak bertanggung jawab!

o Riwayat Abu Nu’aim al Isfahâni:

Dalam kitab Mâ Nazalâ Fi Ali Min al Qur’ân,[1] Abu Nu’aim al Isfahâni meriwayatkan hadis sebagai berikut:

حدّثنا محمّـد بن أحمد بن عليّ بن مخلّد، قال: حدّثنا محمّـد بن عثمان بن أبي شيبة، قال: حدّثني يحيى الحماني، قال: حدّثنا قيس بن الربيع، عن أبي هارون العبدي، عن أبي سعيد الخدري ـ رضي الله عنه ـ: أنّ النبيّ صلّى الله عليه [وآله] وسلّم دعا الناس إلى عليٍّ عليه السلام في غدير خمّ، وأمر بما تحت الشجر من الشوك فقمّ، وذلك يوم الخميس، فدعا عليّـاً، فأخذ بضبعيه فرفعهما حتّى نظر الناس إلى بياض إبطَي رسول الله صلّى الله عليه [وآله] وسلّم، ثمّ لم يتفرّقوا حتّى نزلت هذه الآية: (اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاِسلام ديناً)، فقال رسول الله صلّى الله عليه [وآله] وسلّم: الله أكبر على إكمال الدين وإتمام النعمة، ورضا الربّ برسالتي وبالولاية لعليٍّ من بعدي.

ثمّ قال: من كنت مولاه فعليٌّ مولاه، اللّهمّ والِ من والاه، وعادِ من عاداه، وانصر من نصره، واخذل من خذله.

فقال حسّان بن ثابت: ائذن لي يا رسول الله أن أقول في عليٍّ أبياتاً تسمعهنّ.
فقال: قل على بركة الله.

فقام حسّان فقال: يا معشر مشيخة قريش! أتبعها قولي بشهادة من رسول الله صلّى الله عليه [وآله] وسلّم في الولاية ماضية. ثمّ قال:

يناديهم يـوم الغــدير نبـيـّهم * بــخـمّ وأسمع بالنبي مناديا
يقول فمن مولاكــم ووليّـكم * فقـــالوا ولم يبدوا هناك التعاميا
إلهك مولانـا وأنـت ولـيّـنـا * ولـن تجـدنْ منّا لك اليوم عاصيا
فقال له: قم يا علــيّ فـإنّنـي * رضيتـك من بعـدي إماماً وهاديا

هنـاك دعـا اللّـهـمّ والِ ولـيّه * وكن للذي عادى عليّـاً معاديا.

Muhammad ibn Ahmad ibn Ali ibn Mukhallad menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Muhammad ibn Utsman ibn Abi Syaibah menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata,Yahya al Himmani menyampaikan hadis kepadaku, ia berkata, Qais ibn Rabî’ menyampaikan hadis kepada kami dari Abu Harun al ‘Abdi dari Abu Sa’id al Khudri ra., bahwa Nabi saw. mengajak manusia kepada Ali as. di Ghadir Khum. Beliau memerintah agar duri-duri di bawah beberapa pohon disapu, ketika hari kamis, lalu Nabi memanggil Ali, dan mengangkat kedua lengannya dan mengankat sehingga putih ketiak beliau terlihat oleh orang-orang, kemudain sebelum mereka berpisah turun ayat ini:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دينَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتي‏ وَ رَضيتُ لَكُمُ الْإِسْلامَ ديناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku- cukupkan kepadamu nikmat- Ku, dan telah Ku- ridai Islam itu jadi agama bagimu.”

Maka Rasulullah saw. bersabda, “Maka besar Allah atas penyempurnaan agama dan pelengkapan niktat, atas kerelaan Tuhan dengan kerasulanku dan dengan kepemimpinan,wilayah Ali sepeninggalku.”

Kemudian beliau bersabda, “Barang siapa yang Ali maulâ-nya maka Ali juga maulâ-nya. Ya Allah bimbinglah orang yaang menjadikan Ali sebagai pemimpinnya dan musuhi yang memesuhinya. Belalah yang membelanya dan hinakan yang menghinakannya.”

Lalu Hassân ibn Tsâbit berkata memohon, “Wahai Rasulullah izinkan aku menggubah beberapa bait syair tentang Ali yang akan engkau dengar.”

Maka beliau bersabda, “Katakan atas keberkahan dari Allah!”

Maka Hassân bengun dan berkata:

Di Ghadir Khum Nabi memanggil mereka*** duhai alangkan lantangnya seruannya.

Beliau bersabda ”Siapa maulâ dan wali kalian kalian*** maka mereka menjawab dengan tegas…

Tuhanmu adalah maulâ kami dan engkau adalah wali kami*** dan engkau tidak akan mendapatkan kami pada hari yang menentangmu

Maka beliau bersabda: “Hai Ali! Bangunlah, Sesungguhnya aku tela rela engkau menjadi pemimpin/imam dan pemberi petunjuk sepeninggalku”.

Ketika itu Nabi berdoa, “Ya Allah bimbinglah yang menjadikan Ali pemimpinnya*** dan jadilah Engkau musuh atas yang memusuhi Ali.”



Sekilas Tentang Para Perawi dalam Sanad di Atas

Pada jalur periwayat diatas terdapat beberapa nama perawi yang perlu kita kenal lebih jauh, seperti:

o Muhammad ibn Ahmad ibn Ali ibn Mukhallad yang dikenal dengan nama Ibnu Muharram (w.357 H).

Ia adalah salah seorang murid terdekat Ibnu Jarir ath Thabari.

Ad Dâruquthni berkata:

لا بأس به.

Ia tidak apa-apa.[2]

Demikian juga dengan penilaian Abu Bakar al Burqâni.[3]

Sementara itu adz Dzahabi mensifatinya dengan seorang Imam, Mufti (memberi fatwa) yang panjang umur.[4]

Sebagian orang menilainya kurang baik disebabkan adanya beberapa hadis munkar dalam buku-bukunya, akan tetapi hal itu tidak cukup alasan untuk melemahkannya, sebab mereka tidak menjelaskan hadis-hadis munkar apa yang mereka maksud, bisa jadi yang mereka maksud adalah hadis-hadis keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. seperti hadis yang beliau riwayatkan di atas!

o Muhammad ibn Utsman ibn Abi Syaibah.

Adapun Muhammad ibn Utsman ibn Abi Syaibah telah lewat dibicarakan sebelumnya.

o Yahya al Himmâni.

Beliau adalah salah seorang perawi yang dipercaya Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, dan termasuk salah seorang guru Imam Abu Hatim, Muthayyin dan para pembesar ulama hadis lainnya. Tidak sedikit di antara ulama yang telah menukil pernyataan pujian untuknya dari Yahya ibn Ma’in. ia berkata:

صدوق ثقة

“Ia (Yahya al Himmâni) adalah jujur dan tsiqah/terpercaya.”[5]

Dan selain Yahya ibnu Ma’in, tidak sedikit ulama dan pakar al jarh wa at ta’dîl yang mentsiqahkannya. Dan mereka yang berusaha mencacatnya hanya terdorong karena rasa dengki dan hasud semata, serta karena sikapnya yang tegas terhadap Mu’awiyah (musuh bebuyutan Imam Ali as.) Yahya pernah berkata:

كان معاوية على غير ملّة الاِسلام.

”Adalah Mu’awiyah itu di atas agama selain Islam..”[6]



o Qais ibnRabî’

Adapun Qais ibn Rabî’ ia adalah perawi yang dipercaya dalam meriwayatkan hadis dalam Sunan Abu Daud, at Turmudzi dan Ibnu Mâjah.

Al Hâfidz Ibnu Hajar berkata:

صدوق، تغيّر لمّا كبر… .

Ia shadûq, ia berubah hafalannya ketika usia tuanya… .[7]

o Abu Harun al ‘Abdi

Adapun Abu Harun yang nama lengkapnya ‘Umârah ibn Juwain adalah seorang tabi’in yang sangat terkenal. Ia dipercataya Imam Bukhari dalam kitab Khalq A’mâlil ‘Ibâb, dan juga at Turmudzi dan Ibnu Mâjah. Ia adalah guru ats Tsawri dan Hamâd serta tokoh-tokoh lainnya. Sebagian orang ada yang membincangkannya disebabkan kesyi’ahnya.

Ibnu Abdil Barr berkata:

كان فيه تشـيّع، وأهل البصرة يفرطـون فيمن يتشـيّع بين أظهرهم لاَنّهم عثمانيّون

“Padanya terdapat ketasyayyu’an. Sementara itu penduduk Bashrah sangtat sinis terhadap oran yang bertasyayyu’ di tengah-tengah mereka sebab mereka (penduduk Bashrah) adalah Utsmaniyyuûn (anti Imam Ali as.)”

Setelah menukil kata-kata Ibnu Abdil Barr di atas, Ibnu Hajar berkata:

قلت: كيف لا ينسبونه إلى الكذب، وقد روى ابن عديّ في الكامل عن الحسن بن سفيان، عن عبـد العزيز بن سلام، عن عليّ بن مهران، عن بهز ابن أسد، قال: أتيت إلى أبي هارون العبدي، فقلت: أخرج إليّ ما سمعت من أبي سعيد.
فأخرج لي كتاباً، فإذا فيه: حدّثنا أبو سعيد: إنّ عثمان أُدخل حفرته وإنّه لكافر بالله.

قال: قلت: تقرّ بهذا؟!

قال: هو كما ترى!

قال: فدفعت الكتاب في يده وقمت.

“Saya berkata, Bagaimana mereka tidak menuduhnya sebagai pembohong, sementara Ibnu Adi dalam kitab al Kâmilnya menukil dari Hasan ibn Sufyân dari Abdul Aziz ibn Sallâm dari Ali ibn Mahrân dari Bahz ibn Asad, ia berkata, ‘Aku mendatangi Abu Harun al ‘Abdi, lalu aku berkata kepadanya, “keluarkan kepadaku riwayat yang Anda dengar (nukil) dari Abu Said! Lalu ia mengeluarkan sebuah kitab (buku catatan), ternyata di dalamnya terdapat, “Abu Said menyampaikan hadis kepada kami, bahwa Utsman di masukkan ke dalam liang kuburnya dalam keadaan kafir krpada Allah.”

Aku berkata kepadanya, “Apakah engkau mengakui (kebenaran)nya?

Ia berkata, “ia (riwayat itu) seperti yang engkau saksikan!”

Lalu aku serahkan kitab itu dan aku pergi.”[8]

Karena itu, dalam Taqrîbnya, Ibnu Hajar berkata:

متروك، ومنهم من كذّبه، شـيعي.

Ia ditinggalkan, di antara mereka ada yang membohongkannya (menuduhnya berbohong). Ia seorang Syi’ah).[9]

Akan tetapi apabila kita jujur dan obyektif, sulit rasanya menertima vonis Ibnu Hajar di atas, sebab pada kenyataannya Qias bukanlah seorang perawi yang dibuang/matrûk, karena ia telah dipercaya Imam Bukhari sebagai perawi dalam selah sebuah kitab karyanya, sebagaimana ia juga dipercaya menjadi perawi dalam dua di antara enam kitab Shihâh Ahlusunnah. Adapan tuduhan bahwa ia berbohong telah Anda maklumi penyebabnya, yaitu kesyi’ahnya. Semantara kesyi’ahan seorang perawi tidaklah akan mencacat ketsiaqahannya, seperti telah dijelaskan panjang lebar dalam kajian para ulama Ahlusunnah sendiri. Dan sebagai bukti, bahwa ratusan parawi Syi’ah menjadi andalah periwayatan hadis dalam kitab-kitab Shahih Ahlusunnah, termasuk Shahih Bukhari dan Muslim.

(Bersambung)

[1] Sebagaimana dikutip dalam kitab Khashâish al Wahyi al Mubîn:61-62.

[2] Siyar A’lâm,16/61. Dan redaksi pujian seperti di atas adalah redaksi tingkat kedua, sepeti redaksi pujian Shadûq/jujur. (Tadrîb ar Râwi,1/343).

[3] Tarikh Baghdad,1/31 dan Syadzarât adez Dzahab,3/26.

[4] Siyar A’lâm,16/60.

[5] Penetapan status seorang perawi dengan kata-kata Tsiqah adalah pujian tingkat pertama, seperti juga kata-kata mutqin, Tsabtun, Hujjatun, ‘adlun hâfidzun,dan tsâbtun. (Tadrîb ar Râwi,1/342).

[6] Lebih lanjut silahkan baca Tahdzîb at Tahdzîb,11/213-218.

[7] Taqrîb at Tahdzîb,2/128.

[8] Tahdzîb at Tahdzîb,7/361-362.

[9] Taqrîb at tahdzîb,2/49.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda